Siswi 11 Tahun dari Inggris Torehkan Sejarah sebagai Grandmaster Wanita Termuda

Event96 Dilihat

JAKARTA, SUARAGURU.ID– Dunia catur kembali mencatat rekor baru. Bodhana Sivanandan, siswi asal London berusia 11 tahun, resmi menjadi Woman Grandmaster (WGM) termuda sepanjang sejarah setelah tampil dalam Olimpiade Catur ke-46 di Samarkand, Uzbekistan.

Bodhana memperkuat tim putri Inggris dalam ajang tersebut. Ia tampil di papan pertama dan mengumpulkan 8 poin dari 11 pertandingan. Penampilannya di Olimpiade Catur menjadi penentu tercapainya norma WGM terakhir yang dibutuhkan untuk memperoleh gelar tersebut.

Gelar Woman Grandmaster merupakan salah satu gelar tertinggi yang diberikan Federasi Catur Internasional (FIDE) khusus bagi pemain perempuan dan berlaku seumur hidup. Dengan pencapaian ini, Bodhana memecahkan rekor usia yang sebelumnya berada pada angka 12 tahun.

Bodhana mengaku pencapaian tersebut bukan alasan baginya untuk berhenti mengejar prestasi. Dalam wawancara dengan FIDE, ia mengatakan ingin terus berkembang dan mencetak sejarah baru.

“Saya senang melakukannya, tetapi saya ingin terus maju dan terus membuat sejarah juga, alih-alih hanya berhenti di sini,” kata Bodhana.

Berawal dari Masa Pandemi

Perjalanan Bodhana di dunia catur dimulai ketika pandemi COVID-19. Ia belajar bermain secara autodidak setelah menemukan papan catur yang diberikan teman ayahnya kepada keluarganya.

Turnamen pertamanya berlangsung di Harrow Chess Club pada Juli 2021. Setahun kemudian, ketika masih berusia tujuh tahun, Bodhana mencatat prestasi dengan memenangkan 24 pertandingan di European Schools Championship.

Kemampuannya berkembang pesat. Pada 2023, Bodhana menjadi pemain termuda yang berhasil menahan seorang grandmaster setelah bermain imbang melawan Grandmaster Vladislav Nevednichy dalam European Rapid and Blitz Championship di Kroasia.

Pada 2025, ia kembali mencatat rekor setelah mengalahkan Grandmaster Pete Wells dalam usia 10 tahun lima bulan. Kemenangan tersebut membuatnya menjadi pemain termuda yang pernah mengalahkan seorang grandmaster pada saat itu.

Prestasi Terus Berlanjut

Pada Juli 2026, Bodhana meraih norma International Master (IM) pertamanya dalam Dole Open di Prancis. Dalam turnamen yang sama, ia juga mengalahkan Grandmaster Marc’Andrian Maurizzi, pemain dengan rating lebih dari 2600 dalam catur klasik.

Sebelumnya, pada Agustus 2026, Bodhana juga dinobatkan sebagai juara catur wanita termuda Inggris setelah memenangkan British Women’s Championship.

Di Olimpiade Catur Samarkand, Bodhana kemudian menyelesaikan syarat terakhir untuk memperoleh gelar Woman Grandmaster. Ia mencatat enam kemenangan, empat hasil imbang, dan satu kekalahan dari 11 pertandingan.

Menariknya, Bodhana mengatakan dirinya tidak merasa terlalu terbebani ketika harus bertanding di papan pertama untuk Inggris. Ia memilih menikmati pertandingan dan fokus pada permainan.

“Rasanya hampir sama dengan yang sebelumnya, hanya saja saya bermain di papan yang berbeda,” jelas Bodhana.

Selain catur, Bodhana tetap menjalani pendidikan seperti anak seusianya. Ia mengaku menyukai perjalanan dan merasa bermain catur juga memberikan manfaat bagi kegiatan belajarnya di sekolah.

“Saya suka bepergian dan juga karena saya bersekolah penuh waktu, ini berkaitan dengan banyak mata pelajaran sekolah, jadi ini sangat bermanfaat juga,” tuturnya.

Setelah mencetak sejarah di Uzbekistan, Bodhana kembali ke Inggris dan tetap melanjutkan sekolahnya. Pencapaiannya di usia 11 tahun menjadikannya salah satu pemain muda yang mendapat perhatian besar dalam perkembangan catur internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *