SUARAGURU.ID – Setiap tanggal 10 November, bangsa ini menundukkan kepala, mengenang jasa para pahlawan yang berjuang dengan darah dan air mata demi kemerdekaan Indonesia. Namun di antara gema upacara dan karangan bunga di taman makam pahlawan, ada satu kelompok yang sering dilupakan: para guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang kini justru sering diperlakukan seolah mereka pelaku, bukan pejuang.
Sebagai seorang guru yang hidup di kota kecil nan indah, Lubuk Linggau, saya menyaksikan langsung bagaimana peran guru kini semakin berat dan rumit. Di kota ini terdapat hampir seratus SD Negeri, lima belas SMP Negeri, sembilan SMA Negeri, dan empat SMK, ditambah Madrasah dan sekolah swasta lainnya. Di balik angka-angka itu, berdiri ribuan pendidik yang setiap pagi bangun dengan semangat yang sama, membentuk masa depan bangsa melalui anak-anak kita. Namun akhir-akhir ini, suara mereka sering tenggelam di tengah derasnya arus tudingan, rekaman viral, dan opini publik yang mudah menyalahkan.
Media sosial kini menjadi ruang pengadilan baru. Satu video berdurasi 15 detik bisa mengubah sosok guru yang berpuluh tahun mengabdi menjadi “tersangka” di mata publik. Masyarakat seolah kehilangan rasa hormat terhadap profesi guru, profesi yang dulu disegani, kini sering dijadikan sasaran amarah dan ketidakpuasan.
Ketika guru menegur siswa yang melanggar aturan, ia bisa dilaporkan ke polisi.
Ketika guru mencoba menanamkan disiplin, ia bisa dituduh melakukan kekerasan.
Sementara ketika moral dan tata krama siswa runtuh, guru kembali disalahkan karena dianggap gagal mendidik.
Inilah dilema paling pahit bagi pahlawan tanpa tanda jasa di masa kini.
Guru bukan hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai, karakter, dan empati. Namun kini, tangan mereka seolah diikat oleh ketakutan akan pasal hukum, kamera ponsel, dan komentar pedas warganet.
Saya tidak menutup mata, memang ada guru yang khilaf, yang melanggar norma dan kode etik profesi. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tetapi yang menyedihkan adalah ketika kesalahan segelintir orang dijadikan alasan untuk menuding seluruh profesi guru sebagai pelaku kekerasan atau penindasan.
Padahal, mayoritas guru di negeri ini masih berjuang dalam diam:
Mereka yang mengajar di sekolah pelosok dengan fasilitas seadanya.
Mereka yang tetap tersenyum meski gajinya kadang tak cukup untuk hidup layak.
Mereka yang membawa semangat ke ruang kelas, meski di rumah masih bergulat dengan kesulitan pribadi.
Di Lubuk Linggau sendiri, banyak guru yang masih mengajar dengan sepenuh hati, membimbing anak-anak dari berbagai latar belakang, dari keluarga sederhana, bahkan ada yang harus memotivasi siswa yang kehilangan arah akibat kecanduan gawai dan pergaulan bebas. Namun, ketika ada satu insiden kecil yang viral, masyarakat seolah lupa dengan lautan pengabdian yang telah diberikan oleh guru-guru itu setiap harinya.
Hari Pahlawan seharusnya menjadi momen refleksi nasional, bukan hanya untuk mengenang mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang berjuang di medan pendidikan di papan tulis, di ruang kelas, di hati anak-anak bangsa.
Guru hari ini berperang bukan dengan senjata, tapi dengan kesabaran.
Bukan melawan penjajah berseragam, tapi melawan zaman yang mengikis rasa hormat dan nilai-nilai moral.
Di tengah tekanan dan stigma, guru tetap datang ke sekolah dengan senyum. Mereka masih memanggil murid dengan penuh kasih, masih mengoreksi tugas satu per satu, masih memberi nasihat meski tahu mungkin akan diabaikan. Karena bagi mereka, mendidik adalah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan.
Mungkin benar, zaman berubah, tapi esensi kepahlawanan tidak pernah pudar.
Guru adalah pahlawan masa kini yang tidak berjuang untuk diingat, tetapi untuk memastikan generasi berikutnya tetap punya harapan.
Maka di Hari Pahlawan ini, marilah kita berhenti sejenak untuk merenung.
Sebelum menuding guru, cobalah mengingat siapa yang pertama kali mengajarkan kita membaca, menulis, dan berhitung.
Sebelum memviralkan kesalahan mereka, cobalah melihat pengabdian yang telah mereka berikan.
Karena tanpa guru, tidak akan ada dokter, polisi, jaksa, atau bahkan jurnalis yang menulis tentang mereka.
Lubuk Linggau adalah kota kecil yang indah, tapi saya percaya dari ruang-ruang kelas sederhana di kota ini, lahir generasi hebat yang kelak akan membawa bangsa ini maju, tentu berkat tangan-tangan guru yang tetap setia, meski sering disalahpahami.
Guru bukan ingin disembah, hanya ingin dihormati.
Guru bukan ingin dibela, hanya ingin dimengerti.
Dan jika bangsa ini masih punya hati nurani, maka sudah sepatutnya kita kembali menempatkan guru di posisi terhormat, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. (Uk)
Linggau Juara ( Maju Kotanya, Sejahtera Masyarakatnya )
Pemimpin Juara ( Jujur, Amanah, dan Merakyat )
Foto : Ilustrasi AI









