” Saatnya Berdamai dengan Sejarah “

Nasional, Opini849 Dilihat

OPINI,SUARAGURU.ID – 10 November 2025, upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta tahun 2025 menjadi salah satu momen bersejarah yang layak dikenang. Melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025, sepuluh tokoh besar bangsa mendapat penghormatan tertinggi atas jasa dan pengabdiannya untuk Indonesia. Namun, dua nama di antara mereka menjadi sorotan paling kuat: Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dua sosok yang sangat berbeda, namun sama-sama meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan bangsa.

Penganugerahan ini bukan sekadar simbol penghormatan negara, tetapi refleksi dari kedewasaan bangsa dalam menilai sejarah secara lebih arif dan utuh. Bangsa besar adalah bangsa yang tidak hanya mengingat luka masa lalu, tetapi juga mampu menimbang jasa dan kontribusi dengan kebijaksanaan.

Soeharto: Sang Bapak Pembangunan yang Menyulam Stabilitas

Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia, memimpin negeri ini selama lebih dari tiga dekade. Banyak orang mengenangnya sebagai Bapak Pembangunan. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia melangkah dari ketidakpastian ekonomi menuju masa stabilitas dan pertumbuhan. Jalan-jalan dibangun, pertanian berkembang dengan program swasembada pangan, industri tumbuh, dan rakyat mulai merasakan denyut kemajuan.

Tentu, sejarah tidak menutup mata terhadap sisi gelap masa kekuasaannya, kebebasan yang dibatasi, politik yang terkendali, hingga sejumlah pelanggaran HAM yang menjadi perdebatan hingga kini. Namun, menilai seorang tokoh seperti Soeharto hanya dari satu sisi adalah ketidakadilan sejarah. Ia memimpin di masa yang penuh tantangan dan membawa Indonesia keluar dari kekacauan pasca-1965 menuju arah yang lebih teratur. Dalam konteks itu, pengakuan sebagai Pahlawan Nasional bukan berarti menghapus kesalahan, melainkan mengakui kontribusinya dalam membangun fondasi bangsa.

Gus Dur: Bapak Pluralisme dan Pejuang Kemanusiaan

Di sisi lain, KH. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab disebut Gus Dur, adalah simbol kemanusiaan dan keberagaman Indonesia. Sebagai presiden keempat, Gus Dur membawa semangat pluralisme dan toleransi ke puncak kepemimpinan nasional. Ia membuka jalan bagi pengakuan terhadap kelompok minoritas, menegakkan demokrasi, dan menumbuhkan kembali rasa kemanusiaan di tengah bangsa yang majemuk.

Gus Dur dikenal dengan keberaniannya, tidak takut melawan arus demi membela mereka yang tertindas. Dalam masa kepemimpinannya yang singkat, ia menanamkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kasih sayang sebagai pondasi moral bangsa. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin tidak selalu berarti berkuasa, tetapi berani menyuarakan kebenaran.

Dua Kutub, Satu Indonesia

Menariknya, dua sosok yang kini sama-sama dianugerahi gelar pahlawan ini dahulu sering dianggap mewakili dua kutub yang berbeda. Soeharto dengan stabilitas dan ketertiban, Gus Dur dengan kebebasan dan demokrasi. Namun, keduanya adalah bagian dari satu perjalanan besar: perjuangan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera.

Momen ini mengajarkan kita bahwa bangsa tidak perlu memilih antara “Soeharto” atau “Gus Dur”, karena keduanya adalah bagian dari mozaik sejarah yang saling melengkapi. Soeharto membangun fisik dan fondasi ekonomi bangsa, sementara Gus Dur membangun nilai dan jiwa kemanusiaan bangsa. Dua-duanya memberi warna yang membuat Indonesia tumbuh menjadi negara yang kuat namun juga berperasaan.

Saatnya Berdamai dengan Sejarah

Memang, sebagian kecil masyarakat masih menolak atau merasa belum sepakat dengan penganugerahan ini. Namun, justru di situlah letak kedewasaan sebuah bangsa diuji apakah kita mampu melihat sejarah sebagai pelajaran, bukan sekadar penghakiman? Pahlawan bukanlah sosok tanpa cela, melainkan manusia yang dalam perjalanan hidupnya memberi arti besar bagi bangsanya.

Penganugerahan ini adalah simbol bahwa Indonesia sedang belajar berdamai dengan masa lalunya. Kita belajar untuk tidak melupakan kesalahan, tetapi juga tidak menafikan jasa. Kita belajar untuk mengakui bahwa sejarah adalah rangkaian perjuangan manusia yang kompleks, penuh warna, dan sarat makna.

Penutup

Sebagai seorang warga bangsa, saya memandang keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Gus Dur adalah langkah tepat dan berani. Kedua tokoh ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah menorehkan sejarah besar bagi negeri ini.

Kini, tugas kita adalah melanjutkan nilai-nilai yang mereka wariskan, kerja keras, cinta tanah air, kemanusiaan, dan toleransi. Sebab, pahlawan sejati bukan hanya mereka yang dikenang, tetapi juga kita yang meneruskan perjuangan mereka dengan cara yang bermartabat dan penuh cinta bagi Indonesia.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *