Burnout Akademik Menghantui Mahasiswa, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Mahasiswa42 Dilihat

JAKARTA, SUARAGURU.ID – Padatnya aktivitas perkuliahan, tugas yang menumpuk, tuntutan akademik hingga persoalan masa depan membuat sebagian mahasiswa mengalami kelelahan secara fisik maupun mental. Kondisi ini dikenal sebagai burnout akademik.

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah menyelesaikan tugas. Kondisi ini dapat membuat mahasiswa kehilangan energi, motivasi, bahkan merasa aktivitas perkuliahan tidak lagi memiliki makna.

Tiga Tanda Burnout Akademik

Menurut Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Patricia Adam, burnout akademik memiliki tiga ciri utama, yaitu kelelahan emosional, sinisme akademik, dan menurunnya efikasi diri.

Kelelahan emosional membuat mahasiswa merasa energinya terus terkuras. Sementara sinisme akademik ditandai dengan sikap apatis atau mulai tidak peduli terhadap kegiatan perkuliahan.

Adapun penurunan efikasi diri membuat mahasiswa kehilangan keyakinan terhadap kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan tugas maupun mencapai target akademik.

Tugas Menumpuk hingga Tekanan Digital

Beban akademik menjadi salah satu pemicu utama burnout. Mahasiswa dapat menghadapi berbagai tugas, praktikum, presentasi, organisasi, magang hingga skripsi dalam waktu yang bersamaan.

Tekanan juga dapat semakin besar karena aktivitas digital. Notifikasi dari grup kelas, pesan dosen, tugas, hingga berbagai informasi akademik membuat mahasiswa merasa harus selalu terhubung dengan urusan perkuliahan.

Mahasiswa tingkat akhir juga menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami burnout karena harus menghadapi skripsi, persiapan kelulusan sekaligus kekhawatiran mengenai masa depan.

Jangan Anggap Burnout sebagai Kemalasan

Burnout dapat ditandai dengan rasa lelah yang terus muncul meskipun sudah beristirahat, kehilangan minat terhadap kuliah, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, mudah tersinggung hingga kebiasaan menunda pekerjaan.

Karena itu, kondisi tersebut tidak selalu berarti mahasiswa malas. Bisa saja beban yang dihadapi sudah melebihi kapasitas energi dan dukungan yang dimiliki.

Mahasiswa dapat mulai mengatasinya dengan mengatur kembali beban dan target, menjaga waktu istirahat, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mencari dukungan dari teman, keluarga, dosen, mentor maupun layanan konseling kampus.

Pada saat yang sama, perguruan tinggi juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat melalui pengelolaan beban tugas, komunikasi yang baik serta penyediaan layanan pendampingan bagi mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *