75 Persen Sampah Masih Berakhir di TPA, Guru Besar UGM Dorong Pengolahan Jadi Energi

Mahasiswa70 Dilihat

YOGYAKARTA, SUARAGURU.ID – Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang minim pengolahan dan pemanfaatan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono, dosen Departemen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Biomassa dan Sampah Menjadi Energi.

Dalam pidato pengukuhannya di Balai Senat UGM, Selasa (11/8/2026), Rochim menilai sampah selama ini masih terlalu sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Padahal, limbah dan biomassa memiliki potensi untuk diolah menjadi energi maupun produk bernilai ekonomi.

“75 persen dari sampah tersebut berakhir di TPA yang minim pengolahan dan minim pemanfaatan. Akibatnya, potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” jelas Rochim.

Ia menilai persoalan tersebut semakin penting untuk ditangani karena kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Di sisi lain, penggunaan energi fosil masih mendominasi bauran energi Indonesia.

Menurut Rochim, pemanfaatan biomassa dan limbah dapat memberikan manfaat sekaligus bagi sektor energi, lingkungan, dan ekonomi. Pengolahan sampah menjadi energi juga dapat membantu mengurangi timbunan di TPA, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta menekan emisi.

Untuk mendorong perubahan tersebut, Rochim bersama Departemen Teknik Kimia UGM mengembangkan konsep Resource Transformation Engineering. Pendekatan ini menempatkan limbah dan biomassa sebagai sumber daya yang dapat diubah menjadi energi, material, maupun produk bernilai tambah.

Konsep tersebut bertumpu pada lima pilar, yaitu sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah, sistem industri berkelanjutan, serta dampak nyata bagi masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, teknologi waste-to-energy diharapkan tidak sekadar menjadi solusi pembuangan sampah, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi baru.

Namun, Rochim mengingatkan bahwa penerapan teknologi pengolahan sampah tidak bisa dilakukan dengan meniru teknologi dari negara lain secara mentah. Karakteristik sampah di setiap daerah berbeda sehingga teknologi yang berhasil diterapkan di luar negeri belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Teknologi yang terverifikasi dan berhasil diterapkan di luar negeri belum tentu cocok dan berhasil saat diimplementasikan di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, pengembangan teknologi waste-to-energy di Indonesia perlu disesuaikan dengan karakteristik sampah lokal. Penelitian juga perlu terus dikembangkan agar teknologi yang digunakan mampu menghasilkan energi sekaligus memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi.

Rochim menilai penelitian mengenai waste-to-energy ke depan perlu diarahkan pada pengembangan renewable carbon, biorefinery terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi digital.

Dengan pendekatan tersebut, sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan energi, mengurangi beban TPA, sekaligus menciptakan produk bernilai tambah bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *