MALANG, SUARAGURU.ID — Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) berhasil meraih medali emas dan penghargaan spesial dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 yang digelar di Kansai Airport Conference Halls, Osaka, Jepang, pada Juli 2026. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi kapsul terapi kanker serviks berbahan ekstrak daun sirsak liar.
Inovasi yang diberi nama SUPER NOVA tersebut dikembangkan oleh enam mahasiswa, yakni Rossi Imam Prasojo sebagai ketua tim, bersama Fajar Mubarok Al Sya’bani, Adara Hulwa Fania, Aryo Jalu Megan Rahmawan, Quincy Esther Stephanie, dan Alika Maulidya.
Rossi menjelaskan, timnya memanfaatkan kandungan acetogenin yang terdapat dalam daun sirsak sebagai kandidat terapi yang ditujukan untuk menargetkan metabolisme sel kanker, khususnya kanker serviks.
“Kami memanfaatkan daun sirsak liar yang memiliki kandungan acetogenin karena berpotensi mendorong kematian sel kanker,” kata Rossi.
Pemilihan kanker serviks sebagai fokus penelitian dilatarbelakangi tingginya kasus penyakit tersebut. Meski penelitian saat ini diarahkan pada kanker serviks, Rossi menyebut inovasi tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan pada jenis kanker lainnya.
“Sebenarnya inovasi ini bisa dikembangkan untuk jenis kanker lain juga. Cuma untuk penelitian kami saat ini memang difokuskan pada kanker serviks,” ungkapnya.
Dikembangkan Selama Enam Bulan
Pengembangan SUPER NOVA dilakukan selama sekitar enam bulan. Tahapannya dimulai dari penentuan ide dan masalah yang ingin diangkat, kajian literatur, identifikasi senyawa aktif, hingga pengembangan dan analisis awal menggunakan pendekatan in silico.
Secara umum, proses pembuatan ekstrak dimulai dengan mengeringkan daun sirsak liar. Daun kemudian dihaluskan menjadi serbuk dan diekstraksi menggunakan pelarut untuk mengambil senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya.
Ekstrak yang diperoleh selanjutnya disaring dan dipekatkan. Setelah itu, dilakukan analisis untuk mengetahui kandungan senyawa aktif serta potensi biologisnya.
Rossi mengatakan penelitian tersebut masih terus dikembangkan. Tim menargetkan pada September 2026 dapat mulai menyusun dan mengajukan hasil penelitian untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.
“Saat ini, penelitian masih terus kami kembangkan melalui penyempurnaan analisis, molecular dynamics, dan penyusunan proposal penelitian,” terang Rossi.
Masih Tahap Awal, Belum Siap Digunakan sebagai Terapi
Dosen pembimbing tim, dr Bayu Lestari, M Biomed, PhD, menegaskan bahwa inovasi tersebut masih berada pada tahap penelitian awal. Saat ini, kapsul SUPER NOVA masih dikembangkan melalui pendekatan in silico, termasuk molecular docking.
Menurut Bayu, penelitian masih harus melalui tahapan lanjutan sebelum dapat dikembangkan menjadi terapi yang dapat digunakan masyarakat. Pengujian berikutnya mencakup penelitian in vitro menggunakan sel kanker serviks dan kemudian pengujian in vivo menggunakan hewan model.
Artinya, kapsul tersebut belum dapat dianggap sebagai obat kanker yang telah terbukti aman dan efektif untuk manusia. Penelitian dan pengujian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keamanan, dosis, efektivitas, serta berbagai aspek lainnya.
Dalam proses pengembangannya, tim juga menghadapi kendala pendanaan. Hingga saat ini, penelitian tersebut masih menggunakan dana pribadi sehingga dukungan pembiayaan menjadi salah satu kebutuhan untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya.
Meski masih berada pada tahap awal, Bayu mengapresiasi pencapaian para mahasiswa. Ia menilai prestasi tersebut semakin membanggakan karena penelitian dilakukan ketika anggota tim masih berada di awal masa perkuliahan.
“Kalau saya sebagai pembimbing, jujur merasa bangga dengan prestasi adik-adik mahasiswa. Apalagi adik-adik ini sebenarnya masih semester 2 waktu penelitian itu, masih tahun pertama di Fakultas Kedokteran,” ungkap Bayu.
Keberhasilan meraih medali emas di Jepang menjadi capaian penting bagi tim mahasiswa FK UB. Di sisi lain, penelitian SUPER NOVA masih membutuhkan serangkaian pengujian ilmiah sebelum dapat memasuki tahap pengembangan lebih lanjut dan berpotensi diterapkan dalam bidang kesehatan.









