Dewan Pendidikan Pangandaran Dorong Evaluasi hingga Perubahan Perilaku Siswa

Sekolahku88 Dilihat

PANGANDARAN, SUARAGURU.ID – Program Pendidikan Karakter Melesat yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Pangandaran dinilai perlu memasuki tahap penguatan setelah berjalan lebih dari satu tahun.

Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Pangandaran, Jenal Abidin, mengatakan pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada pelaksanaan kegiatan rutin di sekolah. Menurutnya, keberhasilan program harus mulai dilihat dari sejauh mana pembiasaan tersebut mampu membentuk perubahan perilaku peserta didik.

“Jangan berhenti pada pertanyaan apakah kegiatan karakter sudah dilaksanakan. Yang lebih penting adalah apakah karakter peserta didik benar-benar berubah,” kata Jenal, Jumat (4/9/2026).

Program Pendidikan Karakter Melesat diluncurkan Pemkab Pangandaran pada Juni 2025. Sejumlah pembiasaan diterapkan di sekolah, seperti salat berjamaah, pembelajaran tata cara salat dan baca tulis Al-Qur’an, doa atau surat pendek sebelum pembelajaran, kegiatan kebangsaan, kerja bakti hingga makan bersama.

Berbagai kegiatan tersebut merupakan langkah positif. Namun, pembiasaan harus memiliki tujuan yang lebih jauh, yakni membentuk peserta didik yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan dan memiliki kesadaran moral.

Ia mencontohkan, salat berjamaah tidak semestinya hanya diukur dari jumlah siswa yang mengikuti kegiatan. Pembiasaan tersebut harus diarahkan untuk membangun kedisiplinan dan tanggung jawab peserta didik. Begitu pula dengan kegiatan kerja bakti. Keberhasilannya tidak cukup dilihat dari terlaksananya kegiatan membersihkan lingkungan sekolah, tetapi dari tumbuhnya kepedulian siswa terhadap lingkungan dan sesama.

Jenal juga mengingatkan agar Program Pendidikan Karakter Melesat tidak berjalan terpisah dari kebijakan pendidikan karakter yang telah dimiliki Kabupaten Pangandaran.

Menurutnya, Pangandaran sebelumnya telah memiliki regulasi pendidikan karakter melalui Peraturan Bupati Pangandaran Nomor 58 Tahun 2017 yang kemudian diperbarui melalui Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2019.

Regulasi tersebut telah mencakup berbagai nilai karakter, mulai dari religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, semangat kebangsaan, cinta tanah air, kepedulian sosial dan lingkungan hingga tanggung jawab. Pendidikan antikorupsi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter. mendorong Melesat ditempatkan sebagai upaya revitalisasi dan penguatan kebijakan pendidikan karakter yang sudah ada.

“Program Melesat sebaiknya tidak diposisikan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi revitalisasi dan akselerasi pendidikan karakter Pangandaran,” ucapnya.

Lebih lanjut, Jenal mendorong Pemkab Pangandaran menyusun indikator keberhasilan Program Pendidikan Karakter Melesat secara lebih terukur. menilai ukuran keberhasilan tidak seharusnya hanya berdasarkan jumlah sekolah yang menjalankan kegiatan keagamaan, upacara, membaca Al-Qur’an maupun kerja bakti. Setidaknya terdapat tiga tingkatan yang perlu diukur, yakni aktivitas, perubahan perilaku dan dampak.

Dengan indikator tersebut, setiap kegiatan dapat dikaitkan dengan karakter yang ingin dibangun. Pendidikan Al-Qur’an misalnya, tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga pengamalan nilai akhlak. Pendidikan kebangsaan diarahkan untuk menumbuhkan toleransi dan kecintaan terhadap bangsa, sementara pendidikan antikorupsi dapat diperkuat melalui pembentukan kejujuran dan integritas.

Jenal juga menilai pendidikan karakter di Pangandaran harus mampu menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi generasi saat ini. Anak-anak kini tumbuh di tengah perkembangan media sosial, video pendek, game online, kecerdasan buatan, budaya konsumtif, hoaks hingga potensi perundungan di ruang digital.

Karena itu, pendidikan karakter menurutnya tidak cukup hanya membentuk anak yang religius dan memiliki semangat kebangsaan. Peserta didik juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kecakapan digital, pengendalian diri, sikap antiperundungan, antikorupsi serta kepedulian terhadap lingkungan. Sekolah juga tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun karakter anak. Pendidikan karakter harus berlangsung secara berkelanjutan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Ia mendorong adanya penguatan peran orang tua melalui program semacam Melesat Parenting. Materinya dapat mencakup pendampingan penggunaan gawai, budaya membaca, ibadah dalam keluarga, komunikasi orang tua dan anak, pencegahan bullying, literasi digital serta pentingnya keteladanan. Di tingkat masyarakat, kolaborasi juga dapat diperluas dengan madrasah diniyah, pondok pesantren, organisasi keagamaan, kepemudaan, tokoh masyarakat, dunia usaha, komunitas hingga pemerintah desa.

“Karakter anak tidak hanya dibentuk di sekolah. Keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sangat penting,” tegasnya.

Atas berbagai evaluasi tersebut, Jenal mendorong adanya pengembangan Melesat 2.0: Dari Pembiasaan Menuju Budaya Karakter.

Ia mengusulkan tujuh karakter utama yang menjadi fokus, yakni religius; jujur dan berintegritas; disiplin dan bertanggung jawab; mandiri dan pekerja keras; nasionalis dan toleran; peduli sosial dan lingkungan; serta cakap digital dan kritis. Ketujuh karakter tersebut kemudian dapat diterjemahkan melalui pembiasaan di sekolah, proses pembelajaran, keteladanan guru, penguatan keluarga, keterlibatan masyarakat dan asesmen karakter.

“Keberhasilan Melesat bukan ketika seluruh sekolah Pangandaran memiliki jadwal kegiatan karakter yang sama. Keberhasilannya adalah ketika masyarakat mulai melihat perubahan pada anak-anak Pangandaran,” paparnya.

Jenal berharap pendidikan karakter pada akhirnya mampu melahirkan generasi Pangandaran yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga beriman, berakhlak, jujur, mandiri, memiliki integritas, mampu menghormati perbedaan, peduli terhadap lingkungan serta bijak menggunakan teknologi.

Dengan demikian, pembangunan pendidikan karakter dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia Kabupaten Pangandaran yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *