MURATARA, SUARAGURU.ID– Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, masih memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik menyusul kondisi kabut asap yang belum membaik. Kebijakan ini dipertahankan karena kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada kategori tidak sehat.
Kepala Disdik Muratara, M Andrian Fatursyah, mengatakan kondisi kabut asap secara kasatmata masih cukup tebal. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterima pihaknya untuk Selasa (20/10/2026), terdapat lima kecamatan dengan kualitas udara kategori tidak sehat, sedangkan dua kecamatan lainnya berada pada kategori sedang.
Lima kecamatan yang dilaporkan mengalami kualitas udara tidak sehat meliputi Ulu Rawas, Rawas Ulu, Rupit, Karang Jaya, dan Karang Dapo. Sementara itu, Kecamatan Nibung dan Rawas Ilir tercatat berada pada kategori sedang.
Andrian menegaskan, pihaknya belum mengambil keputusan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka karena kondisi udara dinilai belum memungkinkan. Perubahan metode pembelajaran akan dipertimbangkan melalui rapat dengan memperhatikan perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan warga sekolah.
“Kalau ingin menerapkan pembelajaran tatap muka ditetapkan dalam rapat. Walaupun dilaksanakan belajar tatap muka, namun jam belajar dikurangi. Namun untuk saat ini kita masih PJJ, belum memutuskan pembelajaran tatap muka,” jelas Andrian, Rabu (21/10/2026).
PJJ di Kabupaten Muratara telah diberlakukan sejak Jumat (9/10/2026). Selama kebijakan tersebut berjalan, Andrian melakukan pemantauan secara langsung dengan mengunjungi sekolah-sekolah secara bergiliran untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung.
Meski demikian, pelaksanaan pembelajaran daring masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan jaringan internet di beberapa wilayah yang masuk kategori blank spot. Kondisi ini membuat sebagian siswa kesulitan mengikuti pembelajaran secara langsung melalui jaringan internet.
Kendala lainnya berkaitan dengan ketersediaan perangkat komunikasi. Sebagian siswa tidak dapat menggunakan telepon seluler pada siang hari karena perangkat tersebut dibawa orang tua mereka untuk bekerja.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, guru memberikan kelonggaran waktu pengumpulan tugas hingga malam hari. Dengan cara ini, siswa yang mengalami kendala jaringan internet maupun keterbatasan perangkat tetap memiliki kesempatan menyelesaikan tugas yang diberikan.
Disdik Muratara juga memberikan fleksibilitas kepada sekolah dalam menyampaikan laporan pelaksanaan PJJ. Sekolah diperbolehkan mengirimkan laporan pada malam hari agar proses administrasi tidak menghambat kegiatan belajar siswa.
Kebijakan mempertahankan PJJ akan terus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara. Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan keselamatan peserta didik tetap menjadi prioritas tanpa mengabaikan keberlangsungan proses pendidikan.
Melalui pemantauan berkala dan penyesuaian metode pembelajaran, Disdik Muratara berupaya menjaga kegiatan belajar tetap berjalan di tengah kondisi kabut asap. Pembelajaran tatap muka baru akan dipertimbangkan kembali setelah dilakukan evaluasi dan keputusan melalui rapat berdasarkan kondisi yang ada.















