MUSI RAWAS, SUARAGURU.ID — Persoalan sampah di desa tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Musi Rawas (UNMURA), sampah justru dicoba diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Gagasan tersebut diwujudkan mahasiswa KKN UNMURA Posko 19 Desa Kebur Jaya melalui program edukasi dan praktik pengelolaan sampah. Kegiatan ini tidak hanya mengajak masyarakat memilah sampah, tetapi juga memperkenalkan cara memanfaatkan sampah organik maupun anorganik agar tidak menjadi persoalan lingkungan.
Di bawah bimbingan Dr. Samsul Bahri, SP., M.Si. dan Muhammad Dimas Rizki, SIP., M.Si., mahasiswa memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah kemudian dikelompokkan menjadi sampah organik dan anorganik untuk selanjutnya diolah sesuai karakteristiknya.
Untuk sampah anorganik, terutama sampah plastik, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatannya menjadi paving block. Sementara sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan sebagai media pakan dalam budidaya magot.
Program budidaya magot menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat. Untuk memperkuat kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan Sutejo, STP., M.Si., dosen Universitas Musi Rawas yang memiliki kepakaran di bidang magot.

Dalam penyuluhan tersebut, warga tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai manfaat magot dalam mengurai sampah organik, tetapi juga melihat secara langsung praktik budidayanya. Dengan demikian, masyarakat memperoleh gambaran bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara sederhana sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti penjelasan dan praktik, terutama ketika membahas pemanfaatan magot sebagai alternatif sumber pakan ternak.
Pak Ruhan yang merupakan Ketua BUMDes Desa Kebur Jaya menjadi salah satu pihak yang menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan budidaya magot. Menurutnya, magot memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pakan, khususnya untuk mendukung usaha peternakan ayam petelur yang ada di desa.
Ketertarikan tersebut tidak lepas dari persoalan biaya pakan yang selama ini menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan. Jika magot dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan secara optimal sebagai bagian dari pakan ayam, biaya produksi diharapkan dapat ditekan.
Dukungan terhadap keberlanjutan program juga datang dari Ibu Eva Susanti Kepala Desa dan perangkat Desa Kebur Jaya. Mereka melihat pengelolaan sampah dan budidaya magot bukan sekadar kegiatan selama mahasiswa KKN berada di desa, tetapi dapat dikembangkan menjadi program yang terus berjalan setelah KKN berakhir.
Bagi mahasiswa KKN Posko 19, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sampah yang selama ini dipandang sebagai masalah dicoba dikelola menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Program ini juga membuka peluang bagi desa untuk mengembangkan pengelolaan sampah secara lebih terpadu. Sampah plastik dapat diarahkan menjadi produk seperti paving block, sedangkan sampah organik dapat dikembalikan ke lingkungan melalui kompos atau dimanfaatkan dalam rantai produksi magot.*














