SUARAGURU.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi persoalan serius, terutama karena sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut. Kondisi cuaca yang semakin kering akibat fenomena El Nino membuat kebakaran lebih mudah meluas dan sulit dikendalikan.
Pakar konservasi dan ilmuwan biologi, Prof. Drs. Jatna Supriatna, MSc, PhD, menjelaskan bahwa lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan biasa. Gambut terbentuk dari tumpukan material organik seperti sisa tumbuhan, daun, dan ranting yang terakumulasi selama ribuan tahun dalam kondisi minim oksigen dan tergenang air.
Ketika musim kemarau berlangsung, kondisi gambut menjadi jauh lebih kering. Menurut Jatna, gambut yang kehilangan banyak kandungan air dapat menjadi sangat mudah terbakar. Api bahkan dapat menjalar ke bagian bawah permukaan tanah sehingga kebakaran tidak hanya terlihat dari kobaran api di atas lahan.
Situasi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit. Titik api yang berada di dalam lapisan gambut dapat terus menyimpan bara meskipun api di permukaan sudah berhasil dipadamkan. Akibatnya, kebakaran berpotensi kembali muncul apabila kondisi lingkungan kembali panas dan kering.
Jatna juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang berlangsung panjang dapat memperburuk kondisi tersebut. Apabila kondisi kering berlanjut hingga 2027, ancaman karhutla diperkirakan dapat berlangsung lebih lama sehingga diperlukan kesiapan dan kemampuan adaptasi yang lebih baik.
Sementara itu, Pakar Konservasi sekaligus Peneliti Senior BRIN, Prof. Gono Semiadi, menilai skala karhutla pada 2026 sangat besar. Ia menekankan bahwa penanganan kebakaran di lahan gambut tidak cukup hanya dengan memastikan api di permukaan telah padam.
Menurut Gono, petugas juga perlu memastikan bara yang berada di bawah permukaan benar-benar telah mati. Hal ini menjadi tantangan karena titik api di dalam lapisan gambut tidak selalu terlihat dari permukaan.
Setelah kebakaran berhasil dipadamkan, persoalan belum selesai. Tahap berikutnya adalah memulihkan ekosistem yang rusak akibat kebakaran. Proses rehabilitasi membutuhkan data mengenai kondisi awal kawasan agar pemulihan dapat dilakukan sedekat mungkin dengan ekosistem sebelum terbakar.
Gono menyebut pemulihan keanekaragaman hayati di lahan gambut membutuhkan waktu yang sangat panjang. Bahkan, 10 tahun dinilai belum cukup untuk mengembalikan kondisi ekosistem gambut seperti semula.
Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan menumbuhkan kembali vegetasi, tetapi juga menyediakan habitat dan ekosistem yang sesuai bagi berbagai jenis keanekaragaman hayati. Karena itu, proses rehabilitasi harus dilakukan berdasarkan data dan kondisi ekologis kawasan.
Para pakar menilai penanganan karhutla membutuhkan strategi jangka panjang, mulai dari pencegahan, pemadaman hingga pemulihan ekosistem. Terlebih, perubahan kondisi iklim dan fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kebakaran di kawasan gambut.
Dengan karakteristik gambut yang mudah terbakar ketika kering serta kemampuan api untuk menjalar hingga ke bawah permukaan, penanganan karhutla membutuhkan upaya yang lebih menyeluruh. Pemulihan kawasan yang telah terbakar pun tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dan membutuhkan komitmen jangka panjang.















