PISA 2025 Ungkap Tantangan Matematika Indonesia, Pembelajaran Diminta Tak Sekadar Hafal Rumus

Nasional160 Dilihat

JAKARTA, SUARAGURU.ID – Kemampuan matematika siswa Indonesia berusia 15 tahun masih menjadi perhatian setelah hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan penurunan skor dibandingkan 2022. Skor matematika Indonesia turun dua poin dari 366 menjadi 364 poin, sementara rata-rata 91 negara dan wilayah ekonomi peserta mencapai 469 poin.

PISA merupakan asesmen internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca, matematika, dan sains. Pada PISA 2025, lebih dari 760 ribu siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi menjadi peserta.

Di Indonesia, persoalan tidak hanya terlihat dari skor keseluruhan. Persentase siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika hanya 16,93 persen, turun dari 18,40 persen pada PISA 2022. Siswa yang mencapai tingkat tersebut dinilai sudah mampu memformulasikan persoalan sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika.

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan, siswa Indonesia cenderung lebih kuat ketika bentuk persamaan matematika dalam soal sudah diketahui. Tantangannya muncul saat mereka harus memahami persoalan yang memuat berbagai informasi, baik dalam bentuk teks maupun grafik, lalu menentukan informasi mana yang relevan.

“Dia harus bisa menerjemahkan. Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari,” ujar Rahmawati.

Temuan tersebut mendapat perhatian dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim menilai penurunan skor harus menjadi momentum untuk memperbaiki pola pembelajaran matematika di sekolah.

Menurutnya, pembelajaran seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat angka dan rumus. Siswa perlu dilatih menggunakan konsep matematika untuk memahami persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika,” kata Satriwan.

Di sisi lain, hasil PISA 2025 juga menunjukkan adanya aspek positif dalam proses pembelajaran di Indonesia. Sebanyak 85 persen siswa Indonesia menilai guru terus mengajar sampai mereka memahami materi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang mencapai 69 persen.

Selain itu, 80 persen siswa Indonesia menyebut guru memberikan bantuan tambahan ketika mereka membutuhkannya. Persentase ini juga berada di atas rata-rata OECD yang sebesar 73 persen. P2G menilai data tersebut menunjukkan dedikasi guru dalam memberikan dukungan kepada siswa.

Pemerintah kemudian menyiapkan penguatan kompetensi guru sebagai salah satu tindak lanjut. Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan pembelajaran matematika perlu diarahkan pada pemahaman konsep, penerapan dalam kehidupan nyata, serta kemampuan memecahkan masalah.

“Bukan sekadar menghafal rumus. Jadi dukungan, terutama dukungan dari buku, dukungan dari pelatihan guru, asesmen, dan juga pendampingan sekolah, itu yang juga akan diselaraskan dengan arah tersebut,” kata Toni.

Toni menambahkan, hasil asesmen perlu digunakan sebagai alat untuk mengetahui kemampuan siswa sekaligus menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan sekolah. Penguatan pembelajaran mendalam juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah.

Sementara itu, capaian Indonesia pada bidang lain menunjukkan hasil berbeda. Pada PISA 2025, skor membaca meningkat enam poin menjadi 365, sedangkan skor sains naik enam poin menjadi 389 dibandingkan hasil 2022.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya meningkatkan nilai asesmen, tetapi juga memastikan siswa mampu menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata. Khusus matematika, perubahan pola belajar dari sekadar menghafal menuju pemahaman konsep dan penalaran menjadi salah satu pekerjaan yang perlu diperkuat di ruang kelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *