Mengenang H. Alex Noerdin, Pelopor Pendidikan Gratis Sumsel: Di Antara Jejak Kebaikan dan Bayang-Bayang Kesalahan

Opini : Ujang Kaidin, S.Pd.

Opini217 Dilihat

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kabar duka itu datang dari RS Siloam Jakarta. Pada Rabu, 25 Februari 2026 pukul 13.30 WIB, H. Alex Noerdin—mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode (2008–2018)—mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya menghadirkan kesedihan, perenungan, sekaligus ruang hening untuk menilai perjalanan hidup seorang manusia yang pernah berada di puncak kekuasaan, lalu jatuh dalam pusaran perkara hukum.

Alex Noerdin bukanlah nama kecil dalam sejarah pembangunan Sumatera Selatan. Ia pernah menjadi simbol optimisme daerah. Di masanya, Sumsel berani bermimpi besar, dan sebagian mimpi itu benar-benar terwujud.

Kita mengenang bagaimana Jakabaring Sport City berdiri megah sebagai pusat olahraga terpadu kebanggaan daerah. Kompleks itu menjadi saksi bahwa Sumsel tak lagi ingin menjadi penonton di panggung nasional dan internasional. Dari sanalah keberanian menjadi tuan rumah Asian Games 2018 menemukan momentumnya. Dunia menoleh ke Palembang. Sumsel disebut-sebut di berbagai penjuru Asia.

Lalu hadir pula LRT Palembang, simbol transformasi transportasi massal modern di luar Pulau Jawa. Rel-relnya membentang, membawa harapan tentang konektivitas, kemajuan, dan keberanian berinovasi.

Namun dari semua capaian itu, mungkin yang paling membekas di hati rakyat kecil adalah program pendidikan dan kesehatan gratis. Di pelosok desa, di sekolah-sekolah sederhana, di rumah-rumah yang sebelumnya cemas memikirkan biaya berobat dan biaya sekolah, kebijakan itu terasa nyata. Ada orang tua yang tak lagi harus menjual harta demi seragam dan buku anaknya. Ada siswa yang bisa bermimpi lebih tinggi tanpa dihantui kekurangan biaya. Di titik inilah, banyak masyarakat mengenangnya sebagai “Pelopor Pendidikan Gratis Sumsel.”

Tetapi hidup manusia jarang berjalan dalam satu warna.

Di penghujung perjalanan kariernya, ia harus menghadapi vonis hukum. Pada 2023, ia divonis 12 tahun penjara dalam perkara korupsi terkait pembelian gas bumi oleh PDPDE dan dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya. Kemudian, ia kembali terseret dalam kasus revitalisasi Pasar Cinde Palembang. Statusnya sebagai terpidana menjadi catatan pahit yang tak bisa dihapus dari sejarah.

Di sinilah hati kita diuji: bagaimana cara mengenang seseorang yang pernah berjasa besar, namun juga tersandung kesalahan besar?

Sebagai masyarakat, kita tentu tidak boleh menormalisasi korupsi. Korupsi adalah luka bagi keadilan sosial. Ia merampas hak rakyat, mencederai amanah, dan menggerogoti kepercayaan publik. Hukum harus tetap ditegakkan, dan pelajaran moral harus tetap dijadikan pegangan.

Namun pada saat yang sama, Islam dan nilai kemanusiaan mengajarkan kita untuk melihat manusia secara utuh. Tidak ada manusia yang sepenuhnya malaikat, dan tidak pula sepenuhnya iblis. Setiap orang adalah campuran antara cahaya dan bayang-bayang. Ketika seseorang wafat, yang tersisa bukan lagi jabatan, bukan pula gelar, melainkan amal dan jejak pengaruhnya.

Kini, Alex Noerdin telah kembali kepada Sang Pencipta. Segala pujian dan celaan tak lagi ia dengar. Yang tertinggal adalah doa, evaluasi sejarah, dan pelajaran bagi generasi berikutnya.

Kita boleh mengkritisi kesalahannya. Kita wajib belajar dari kekeliruannya agar pejabat hari ini dan esok tidak mengulangi hal yang sama. Tetapi kita juga tak boleh menutup mata terhadap kontribusi nyata yang pernah ia torehkan bagi Sumatera Selatan.

Sejarah tidak pernah hitam-putih. Ia penuh gradasi.

Kepergiannya menjadi pengingat bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan kepemilikan. Bahwa jabatan setinggi apa pun bisa runtuh dalam sekejap. Bahwa prestasi gemilang bisa ternoda oleh satu keputusan keliru. Dan bahwa pada akhirnya, semua manusia akan berdiri sendiri di hadapan Tuhan, mempertanggungjawabkan setiap amanah.

Di atas segala perdebatan dan penilaian, hari ini adalah hari untuk berempati. Ada keluarga yang kehilangan ayah, suami, dan kakek. Ada sahabat yang kehilangan teman seperjuangan. Ada masyarakat yang mengenang jasa, sekaligus merenungi ironi.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafnya, menerima amal baiknya, melapangkan kuburnya, dan menjadikannya pelajaran berharga bagi kita semua bahwa integritas adalah mahkota sejati seorang pemimpin.

Selamat jalan, H. Alex Noerdin.

Engkau telah menyelesaikan bagianmu di dunia. Kini sejarah yang akan menilai, dan Tuhan yang akan memutuskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *