Peringatan 20 Tahun Tsunami Pangandaran Diisi Simulasi Evakuasi bagi Ratusan Pelajar

Event40 Dilihat

PANGANDARAN, SUARAGURU.ID– Sebanyak 880 pelajar SMA Negeri 1 Pangandaran mengikuti simulasi gempa bumi dan tsunami dalam rangka peringatan 20 tahun bencana tsunami Pangandaran, Jumat (17/7/2026). Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan sekaligus menanamkan budaya sadar bencana kepada generasi muda.

Saat sirene peringatan berbunyi, para siswa yang sebelumnya mengikuti rangkaian kegiatan langsung mempraktikkan prosedur penyelamatan diri dengan berlindung di bawah meja. Setelah situasi dinyatakan aman, mereka dievakuasi secara tertib menuju titik kumpul dengan pendampingan guru serta petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran.

Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, mengatakan peringatan dua dekade tsunami tidak hanya menjadi momentum mengenang peristiwa yang merenggut ratusan korban jiwa, tetapi juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

“Dulu gempanya tidak begitu besar, tetapi disusul dengan tsunami yang begitu dahsyat. Lebih dari 600 jiwa meninggal waktu itu. Itu dianggap karena keterkejutan dan ketidaktahuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Hari ini di SMA Negeri 1 Pangandaran kita mengadakan simulasi apabila terjadi gempa bumi lagi,” kata Citra.

Menurutnya, edukasi mengenai mitigasi bencana perlu terus diberikan, terutama kepada kalangan pelajar yang tidak mengalami langsung peristiwa tsunami pada 17 Juli 2006.

Kepala SMA Negeri 1 Pangandaran, Mulyana, menjelaskan simulasi disusun dalam dua tahapan. Tahap pertama menitikberatkan pada tindakan penyelamatan saat terjadi gempa, sedangkan tahap kedua berupa evakuasi menuju titik kumpul sebagai langkah antisipasi apabila gempa berpotensi memicu tsunami.

“Yang pertama simulasi ketika ada gempa. Siswa diminta mengamankan diri, seperti berlindung di bawah meja. Setelah gempa reda dilakukan penyelamatan dan seluruh peserta berkumpul di titik kumpul sesuai prosedur,” ujarnya.

Ia mengatakan kegiatan tersebut melibatkan sekitar 880 siswa kelas XI dan XII. Menurutnya, latihan serupa telah beberapa kali dilaksanakan melalui kerja sama antara sekolah dan BPBD sebagai bagian dari pendidikan kebencanaan.

“Mitigasi bencana dan kesiapsiagaan sudah beberapa kali kami lakukan bersama BPBD. Untuk masyarakat Pangandaran, pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana seharusnya menjadi hal yang wajib,” katanya.

Mulyana menambahkan, sebagian besar siswa yang mengikuti simulasi merupakan generasi yang lahir setelah tsunami melanda Pangandaran. Karena itu, pemahaman mengenai sejarah bencana maupun langkah penyelamatan harus terus ditanamkan melalui kegiatan edukatif.

“Kalau sejarah tsunami mungkin banyak yang belum tahu karena generasi sekarang kemungkinan belum lahir saat kejadian itu. Tetapi paling tidak masyarakat Pangandaran mengetahui pernah terjadi tsunami,” ucapnya.

Melalui simulasi tersebut, para pelajar tidak hanya dikenalkan pada prosedur evakuasi, tetapi juga diingatkan bahwa Pangandaran merupakan wilayah yang memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami. Diharapkan, latihan yang dilakukan secara berkala dapat membentuk respons yang cepat dan tepat apabila bencana serupa kembali terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *