Kawah Anak Krakatau Berubah Mirip Telur Ceplok Usai Erupsi, Ini Penjelasan Ahli

Nasional142 Dilihat

NASIONAL, SUARAGURU.ID— Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menjadi perhatian setelah terlihat menyerupai telur ceplok dari udara. Fenomena dengan bagian tengah berwarna kuning dan area putih di sekelilingnya itu muncul setelah rangkaian aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 dan kemudian viral di media sosial.

Penampakan tersebut terlihat dalam rekaman yang dibagikan akun Instagram @wxchasing. Video itu memperlihatkan kondisi Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi mereda, dengan pola warna kuning-putih yang tampak jelas di bagian dasar kawah. Fenomena tersebut kemudian ramai diperbincangkan masyarakat sejak sekitar 18 September 2026.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bentuk yang disebut masyarakat sebagai “telur ceplok” bukanlah fenomena misterius. Kondisi tersebut merupakan proses geokimia alami yang dapat terjadi di lingkungan kawah gunung api aktif.

Menurut Daryono, pola warna tersebut terbentuk akibat interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah, gas vulkanik terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral yang mengalami alterasi hidrotermal. Proses itu dapat mengalami perubahan setelah gunung api melalui episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah turut berubah.

Dari tampilan udara, genangan air menempati bagian terendah kawah, sedangkan proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menghasilkan perbedaan warna. Kontras antara bagian kuning di tengah dan material berwarna putih di sekelilingnya kemudian membuat kawah tersebut secara visual menyerupai telur ceplok.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, juga menjelaskan bahwa tampilan tersebut berkaitan dengan air yang terkontaminasi gas belerang. Selain kandungan belerang, warna genangan juga dapat dipengaruhi material pada lapisan dinding kawah yang berinteraksi dengan air dan gas vulkanik.

“Jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang,” kata Suwarno, Jumat (18/9/2026).

Fenomena tersebut muncul setelah Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas erupsi pada awal September. Berdasarkan laporan yang dikutip dalam pemberitaan, gunung api tersebut mengalami erupsi pada 3 September 2026 dan kemudian terdapat episode erupsi menerus sekitar 25 jam, dari 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.

Setelah aktivitas permukaan mereda, rekaman udara menunjukkan adanya genangan dengan pola warna kuning dan putih di bagian kawah. Perubahan tersebut kemudian menjadi perhatian karena bentuknya yang menyerupai telur ceplok.

Meski erupsi telah mereda, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Pada Jumat (18/9/2026) dini hari, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo maksimum 12 milimeter dan durasi lima detik. Selain itu, tercatat satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.

Suwarno juga menyebut tremor menerus atau microtremor masih terekam dengan amplitudo 0,5–6 milimeter, dengan amplitudo dominan 2 milimeter. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas kegempaan masih dipantau meskipun aktivitas erupsi permukaan telah mereda.

Pada saat itu, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan dan pihak lain diimbau tidak mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Dengan demikian, istilah “telur ceplok” yang beredar di masyarakat merupakan penyebutan berdasarkan bentuk visual kawah, bukan istilah vulkanologi resmi. Pola tersebut dapat dijelaskan melalui proses alami berupa interaksi air, gas vulkanik, batuan dan mineral di lingkungan kawah aktif. Kondisi kawah tetap menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau karena gunung tersebut masih berada dalam status Siaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *