Pantang Menyerah, Guru SD 26 Lubuklinggau Borong Dua Medali Perunggu di Kejurprov Para Panahan Lahat 2026

Event, Guru, Olahraga172 Dilihat

LAHAT, SUARAGURU.ID — Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan, sering lahir kekuatan, ketekunan, dan keberanian yang mampu menginspirasi banyak orang.

Kisah itu kembali ditorehkan Erni Kosida, S.Pd, seorang guru di SD Negeri 26 Lubuklinggau. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik dan perjuangannya menjalani kehidupan, Erni kembali mengharumkan nama Kota Lubuklinggau melalui ajang Kejurprov Para Panahan Lahat 2026 yang berlangsung pada 13–16 Agustus 2026.
Dalam kejuaraan tersebut, Erni berhasil membawa pulang dua medali perunggu pada cabang olahraga panahan.

Prestasi pertama diraihnya pada kategori Divisi Nasional Total Jarak 40 Meter Perorangan, sementara medali perunggu kedua diperoleh pada kategori Divisi Nasional Umum Eliminasi 40 Meter Perorangan.

Dua medali tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan di atas podium. Di baliknya terdapat proses panjang, latihan, kedisiplinan, keberanian menghadapi tekanan pertandingan, serta semangat untuk terus membuktikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.

Bagi Erni, olahraga bukan hanya tentang menang dan kalah. Panahan menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri, melatih konsentrasi, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi batas bagi seseorang untuk berkarya dan memberikan inspirasi.

Guru yang Mengajar dengan Keteladanan

Erni Kosida merupakan salah satu tenaga pendidik yang mengabdi di SD Negeri 26 Lubuklinggau, di bawah kepemimpinan Holia, S.Pd.

Sebagai seorang guru, Erni tidak hanya hadir membawa ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Perjalanan hidup dan prestasinya justru menjadi pelajaran nyata tentang arti perjuangan, keberanian dan pantang menyerah.
Di sekolah, ia menjalankan perannya sebagai pendidik. Di arena olahraga, ia menjadi pejuang yang membawa nama daerah.

Dua dunia tersebut akhirnya bertemu dalam satu pesan sederhana: keteladanan tidak selalu lahir dari kata-kata, tetapi juga dari keberanian untuk menjalani perjuangan.

Di balik perjuangannya, Erni juga mendapat dukungan keluarga. Ia menjalani kehidupan bersama suaminya, Losa, serta dua buah hati tercinta, Arief Rahmansyah dan Arsyila Rahmansyah.

Dukungan keluarga tentu menjadi energi tersendiri bagi Erni untuk terus melangkah, berlatih dan bertanding.

Bukan Prestasi Pertama

Dua medali perunggu di Lahat bukanlah pencapaian pertama Erni di dunia olahraga disabilitas.
Sebelumnya, Erni juga pernah menorehkan prestasi luar biasa pada ajang Pekan Paralimpik Provinsi Sumatera Selatan (Peparprov) ke-V tahun 2025 yang berlangsung di Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA).
Dalam ajang tersebut, Erni tampil luar biasa dan berhasil memborong tiga medali emas sekaligus dari tiga cabang olahraga berbeda, yakni tenis meja, panahan dan voli duduk.

Pencapaian tersebut menjadi bukti konsistensi dan mental juara yang dimilikinya.

Jika banyak orang melihat medali sebagai hasil akhir, Erni mengajarkan bahwa medali sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari perjalanan. Ada latihan yang melelahkan, jatuh bangun, rasa kecewa, perjuangan mengatasi keterbatasan, hingga keberanian untuk kembali berdiri dan mencoba.

Inspirasi dari Lubuklinggau untuk Indonesia

Kisah Erni Kosida menjadi pengingat bahwa prestasi tidak mengenal batas. Ia membuktikan bahwa seorang guru juga bisa menjadi atlet berprestasi, sementara seorang penyandang disabilitas mampu berdiri sejajar dan bersaing di arena olahraga.

Lebih dari itu, prestasinya membawa pesan penting bagi anak-anak yang ia didik: jangan pernah menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menyerah terhadap cita-cita.

Panahan mengajarkan satu hal yang sangat sederhana namun bermakna. Sebelum anak panah dilepaskan, seorang pemanah harus menariknya jauh ke belakang. Semakin kuat tarikan, semakin jauh anak panah dapat melesat menuju sasaran.

Begitu pula kehidupan.
Terkadang seseorang harus ditarik mundur oleh keadaan, menghadapi kesulitan dan melewati masa-masa berat. Namun bukan berarti perjalanan harus berhenti. Bisa jadi, semua itu justru sedang mempersiapkan seseorang untuk melesat lebih jauh.

Erni Kosida telah membuktikannya.
Dari ruang kelas menuju arena pertandingan, dari perjuangan menuju podium, ia membawa satu pesan yang layak diteladani:
Keterbatasan bukan akhir dari perjalanan. Selama masih ada kemauan, keberanian dan tekad untuk berjuang, selalu ada sasaran yang bisa dituju dan mimpi yang bisa diwujudkan.

Dua medali perunggu dari Lahat menjadi tambahan tinta dalam perjalanan panjang Erni. Namun bagi banyak orang, khususnya anak-anak didiknya di SD Negeri 26 Lubuklinggau, prestasi terbesar Erni mungkin bukan hanya medali yang ia bawa pulang.

Prestasi terbesarnya adalah menjadi bukti hidup bahwa semangat tidak pernah mengenal kata terbatas.(Uk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *