101.888 Murid di NTT Terdampak Gempa Membutuhkan Pendampingan Psikososial

Sekolahku98 Dilihat

SUARAGURU.ID — Sebanyak 101.888 peserta didik dari 857 satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan membutuhkan pendampingan psikososial setelah terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut. Kondisi itu mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan program pemulihan psikologis sekaligus pembelajaran bagi warga sekolah.

Data tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK & PLK) Kemendikdasmen, Saryadi, dalam Taklimat Media Perkembangan Penanganan Bencana NTT di Bidang Pendidikan yang digelar secara daring pada Senin, 14 September 2026.

Saryadi mengatakan dukungan psikososial sebelumnya telah diberikan di 75 sekolah bersama sejumlah mitra. Namun, melihat besarnya kebutuhan di wilayah terdampak, Kemendikdasmen akan memperluas pendampingan melalui pelatihan bagi fasilitator nasional dan daerah.

“Dalam waktu dekat, Kementerian akan melaksanakan pelatihan bagi 120 fasilitator nasional dan juga 1.700 fasilitator daerah yang akan menyasar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di 7 kabupaten terdampak dengan fokus pada dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascagempa,” ujar Saryadi.

Pelatihan tersebut disiapkan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi NTT dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Diponegoro dan Universitas Padjadjaran. Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) juga turut memberikan dukungan dalam program tersebut.

Pendampingan diperlukan karena gempa tidak hanya berdampak terhadap kondisi fisik sekolah, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis siswa dan tenaga pendidik. Berdasarkan rapid assessment Himpsi di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, sejumlah siswa mengalami kecemasan dan ketakutan akibat gempa susulan.

Beberapa anak dilaporkan mengalami kesulitan tidur, takut berada di dalam rumah, tidak berani menutup pintu karena khawatir terjadi gempa susulan, hingga mengalami kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti kegiatan belajar.

Untuk membantu siswa, Himpsi sebelumnya menggelar kegiatan “Tenda Gembira” dengan aktivitas bermain yang dirancang secara terstruktur. Anak-anak juga diperkenalkan dengan teknik stabilisasi emosi untuk membantu mereka mengelola rasa takut dan kecemasan setelah bencana.

Sementara bagi guru dan tenaga kependidikan, pendampingan dilakukan melalui psikoedukasi mengenai dukungan psikologis awal. Guru juga mendapatkan pendampingan melalui kegiatan Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance (SAPA), termasuk penyapaan langsung dan asesmen psikososial terhadap guru yang terdampak.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali ruang kelas. Kondisi psikologis siswa, guru dan tenaga kependidikan juga menjadi bagian penting agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan dengan aman dan efektif.

Selain Kemendikdasmen dan Himpsi, sejumlah mitra turut membantu pemulihan pendidikan di wilayah terdampak, di antaranya Plan Indonesia, CIS Timor bersama Save the Children, Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Palang Merah Indonesia, Koalisi Kopi, Muhammadiyah Disaster Management Center, INOVASI dan sejumlah lembaga lainnya.

Dengan dukungan tersebut, pemerintah menargetkan pemulihan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak dapat berjalan secara bertahap. Pendampingan psikososial diharapkan membantu siswa maupun tenaga pendidik memulihkan kondisi mental sekaligus kembali mengikuti kegiatan belajar setelah bencana.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *