AI Tak Lagi Sekadar Chatbot, Teknologi Kini Mulai Bantu Analisis hingga Pengambilan Keputusan

Uncategorized62 Dilihat

JAKARTA, SUARAGURU.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai memasuki tahap baru. Jika sebelumnya teknologi ini lebih dikenal sebagai chatbot untuk menjawab pertanyaan dan memberikan informasi, kini AI mulai dimanfaatkan untuk menganalisis data, membantu pengambilan keputusan, hingga menjalankan berbagai tugas operasional perusahaan.

Perubahan tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dunia usaha dalam mengelola informasi dari berbagai saluran komunikasi dan sistem digital. Banyaknya data yang harus diproses membuat perusahaan membutuhkan teknologi yang tidak hanya mampu memberikan respons cepat, tetapi juga membantu menentukan langkah selanjutnya secara lebih efektif.

Perkembangan ini menjadi salah satu pembahasan dalam forum tahunan Conversa 6.0 yang diselenggarakan perusahaan teknologi Qiscus pada Kamis (29/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 200 praktisi bisnis dan menjadi ajang pengenalan dua teknologi baru, yakni Operator dan Qiscus MCP.

CEO sekaligus Co-Founder Qiscus, Delta Purna Widyangga, menjelaskan bahwa pemanfaatan AI selama ini masih banyak berfokus pada interaksi dengan pelanggan. Padahal, kebutuhan perusahaan kini mulai berkembang menuju pemanfaatan AI dalam proses operasional dan pengambilan keputusan.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi yang mampu menjawab pertanyaan dengan cepat, tetapi juga sistem yang dapat membantu menghasilkan keputusan secara tepat dan mempercepat pelaksanaan pekerjaan.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah Operator. Sistem ini dirancang untuk membantu pengguna memperoleh informasi, menyusun laporan, hingga menjalankan tindak lanjut dan otomatisasi pekerjaan melalui satu platform.

Selain itu, Qiscus MCP dikembangkan untuk menghubungkan ekosistem Qiscus dengan berbagai AI Agent yang telah digunakan perusahaan. Integrasi tersebut memungkinkan sejumlah teknologi kecerdasan buatan bekerja bersama dalam satu alur operasional yang lebih terkoordinasi.

Meski demikian, penerapan AI dalam pekerjaan perusahaan tetap memerlukan pengawasan manusia. Setiap hasil analisis dan tindakan otomatis perlu dipastikan sesuai dengan kebutuhan serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam forum yang sama, persoalan keterlambatan pengambilan keputusan atau decision latency turut menjadi perhatian. Istilah tersebut merujuk pada jeda waktu antara munculnya informasi hingga informasi tersebut diolah menjadi keputusan yang dapat dilaksanakan.

Semakin banyak sistem dan saluran komunikasi yang digunakan perusahaan, semakin besar pula volume informasi yang harus dikelola. Kondisi ini berpotensi memperlambat proses pengambilan keputusan apabila data tersebar di berbagai platform.

Pembahasan mengenai tantangan tersebut turut menghadirkan sejumlah praktisi bisnis, di antaranya Achmad Zaky dari Init6, Andre Djokosoetono dari Bluebird Group, Susanto Benny dari Asuransi Astra, Inggita Sistha Widyawan dari Novo Indonesia, serta Norhaslina Othman dari KPJ Healthcare.

Di sisi lain, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan fungsi chatbot. Teknologi tersebut tetap dibutuhkan untuk melayani pertanyaan dan komunikasi pelanggan. Namun, pemanfaatannya kini mulai diperluas ke berbagai tahapan pekerjaan, termasuk personalisasi layanan, analisis informasi, dan koordinasi operasional.

Melalui perkembangan tersebut, AI berpotensi menjadi bagian penting dalam sistem kerja perusahaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat terintegrasi dengan baik, memiliki tingkat akurasi yang memadai, serta tetap memperhatikan keamanan data dan keterlibatan manusia dalam proses pengawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *