“Bukan Riset Biasa! Berkat Teliti Bisa Ular, Yasmin Jadi Wisudawan Terbaik IPB Ber-IPK 4”

Kampus Kami, Nasional152 Dilihat

SUARAGURU.ID., Jakarta – Detikers pernah membayangkan bagaimana seekor ular menghasilkan racun? Rasa penasaran tersebut membuat perempuan satu ini langsung melakukan penelitian.
Yasmin Nadhiva Narindria mencoba mengamati kelenjar nuchalis ular picung (Rhabdophis subminiatus) yang berfungsi menghasilkan racun (toxin). Dedikasi atas risetnya mengantarkan Yasmin menjadi lulusan IPB University terbaik. Bagaimana ceritanya? Simak di sini.
Tertarik dengan Detail Anatomi Satwa

Yasmin memiliki kesukaan yang cukup unik. Saat kebanyakan orang ketakutan dengan ular, ia sebaliknya bahkan menjadikan ular sebagai objek kajiannya.

Ketertarikan Yasmin khususnya mengarah pada detail anatomi satwa. Ia pun memutuskan untuk menempuh studi magister di Ilmu Biomedis Hewan, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University.
Jelaskan Beda Racun dan Bisa Ular
Hasil penelitiannya juga diarahkan untuk memberitahu lebih banyak orang bahwa racun dan bisa ular merupakan dua substansi yang berbeda.

“Racun umumnya digunakan sebagai mekanisme pertahanan pasif terhadap predator, sedangkan bisa (venom) digunakan untuk melumpuhkan mangsa dan disalurkan melalui taring atau gigi,” kata Yasmin, dilansir dari laman IPB University.

Pada ular yang ia teliti,yakni ular picung, pada dasarnya dikenal berbisa. Selain itu, rupanya, ular picung juga memilki kelenjar racun yang masih belum banyak diketahui masyarakat.

Ular picung saat ini tersebar di wilayah Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. sampel yang Yasmin pakai berasal dari Bogor dan Bandung.

Ular picung memiliki habitat yang lembab, seperti di sekitar sungai atau perairan. Yasmin melihat populasi ular ini tergolong melimpah dan berstatus tidak terancam punah.

Jadi Lulusan Magister Terbaik IPB
Yasmin sebelumnya menempuh pendidikan S1 Kedokteran Hewan di kampus yang sama. Ia menempuh Peminatan Ilmu Faal dan Khasiat Obat, Sub-Peminatan Anatomi, Histologi, dan Embriologi.

Berkat dedikasinya yang tinggi selama kuliah dan menyelesaikan tesis, Yasmin meraih IPK 4,00 atau sempurna. Bahkan tesisnya telah mengantarkan ia menjadi lulusan magister terbaik IPB.

Ia baru saja diwisuda pada Desember 2025 lalu. Yasmin bersyukur penelitiannya telah berhasil meskipun masih perlu dikembangkan, khususnya terkait racun ular picung ini.

Menurut Yasmin, informasi tersebut perlu disampaikan lebih luas lagi kepada masyarakat.

“Semoga hasil penelitian ini bisa memperkaya pengetahuan tentang biologi ular picung serta membuka peluang pemanfaatan racun sebagai bahan biologis, seperti pengembangan antitoksin atau antiserum,” harap Yasmin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *