SUARA GURU, PANGANDARAN – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) memperkenalkan Aplikasi Tangkap, sebuah inovasi teknologi digital yang dirancang untuk membantu nelayan menentukan lokasi potensial keberadaan ikan sekaligus mendukung navigasi kapal saat melaut.
Sosialisasi dan implementasi aplikasi tersebut digelar di Aula Desa Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jumat (4/9/2026), melalui kegiatan Workshop Sosialisasi dan Implementasi Aplikasi Tangkap untuk Peningkatan Kapasitas dan Keselamatan Penangkapan Ikan di Pangandaran.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat nelayan, khususnya dalam memperoleh informasi sebelum dan saat melakukan aktivitas penangkapan ikan.
Kepala Desa Pangandaran, Adi Fitriadi, mengatakan gagasan menghadirkan program tersebut berangkat dari kondisi masyarakat Desa Pangandaran yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.
“Mengingat warga Desa Pangandaran itu paling banyak bermata pencaharian sebagai nelayan, saya berpikir bagaimana memberikan program yang benar-benar menyentuh masyarakat nelayan. Alhamdulillah, ada beberapa program yang sudah kami laksanakan, khususnya melalui Pemerintah Desa Pangandaran,” ujar Adi.
Menurutnya, pemerintah desa kemudian berupaya mencari informasi dan dukungan dari berbagai pihak untuk menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam proses tersebut, Adi bertemu dengan salah seorang dosen ITB, Wiwin, yang selama ini sering melakukan kegiatan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat di Pangandaran.
“Saya mencari informasi dan dukungan berkaitan dengan program. Alhamdulillah, saya bertemu dengan Pak Wiwin sebagai dosen ITB yang sering ke Pangandaran berkaitan dengan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Kemudian saya konsultasikan bahwa saya ingin memberikan program untuk nelayan, dan Alhamdulillah Pak Wiwin akhirnya memberikan program itu, yaitu Aplikasi Tangkap,” katanya.
Adi berharap aplikasi tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi nelayan, terutama dalam membantu menentukan lokasi potensial ikan sehingga aktivitas melaut dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Jelas, harapannya bisa mempermudah warga Desa Pangandaran, khususnya nelayan, untuk menangkap ikan,” ungkapnya.
Lektor Kepala Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB menjelaskan, Aplikasi Tangkap dikembangkan tidak hanya untuk membantu nelayan mencari lokasi potensial ikan, tetapi juga memberikan panduan navigasi menuju lokasi tersebut.
“Aplikasi ini digunakan untuk membantu nelayan mencari ikan di laut, tetapi sudah mengetahui di mana ikan berada sehingga tinggal pergi ke sana. Aplikasi ini juga membantu nelayan dalam hal navigasi ke tempat ikan itu berada,” ujarnya.
Aplikasi tersebut dapat memberikan sejumlah informasi, antara lain arah perjalanan, jarak, perkiraan waktu tempuh, hingga kondisi laut menuju lokasi yang dituju.
Konsep navigasi tersebut, kata dia, kurang lebih seperti penggunaan aplikasi peta digital saat berkendara di darat.
“Seperti halnya kalau Bapak-Bapak menggunakan Google Maps di mobil, untuk di kapal pun konsepnya kurang lebih seperti itu, yaitu menunjukkan arah dan jalan,” jelasnya.
Salah satu keunggulan yang dikembangkan dalam Aplikasi Tangkap adalah pemanfaatan data terkini dari citra satelit untuk memberikan gambaran mengenai potensi keberadaan ikan.
“Kelebihannya adalah memunculkan informasi terkini mengenai ikan itu ada di mana. Itu berdasarkan informasi terkini juga dari citra satelit. Kita interpretasikan di mana ikan itu berada, kondisi untuk hari ini itu ada di mana,” katanya.
Dengan informasi tersebut, nelayan diharapkan dapat memiliki referensi sebelum menentukan lokasi penangkapan.
Selain aspek efisiensi, pengembangan aplikasi juga memperhatikan faktor keselamatan. Informasi mengenai kondisi laut dan cuaca dapat menjadi bahan pertimbangan nelayan sebelum melakukan perjalanan menuju lokasi penangkapan.
Masih Terus Dikembangkan
Meski telah dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan, Aplikasi Tangkap masih berada dalam tahap pengembangan. Salah satu fitur yang tengah dikembangkan adalah kemampuan untuk mengklasifikasikan jenis ikan yang berpotensi berada di suatu lokasi.
“Aplikasinya baru kami kembangkan setahun terakhir, jadi kami belum bisa mengklasifikasikan ini ikannya apa. Secara teori itu bisa, tetapi kami masih mencoba mengembangkannya,” ungkapnya.
Pengembangan fitur tersebut dinilai penting karena nelayan menggunakan berbagai jenis alat tangkap yang disesuaikan dengan jenis ikan dan kondisi musim penangkapan.
Ke depan, ITB berharap aplikasi tersebut dapat memberikan informasi yang semakin spesifik. Nelayan nantinya diharapkan tidak hanya mengetahui lokasi potensial ikan, tetapi juga dapat menyesuaikan jenis alat tangkap yang digunakan.
“Mudah-mudahan dalam perkembangannya ke depan, aplikasi ini juga akan dikembangkan lebih lanjut untuk bisa sampai menjawabnya. Kita juga harus mempersiapkan alat tangkap yang sesuai dengan jenis ikannya,” ujarnya.
Kolaborasi antara Pemerintah Desa Pangandaran dan ITB tersebut diharapkan menjadi langkah positif dalam memperkenalkan pemanfaatan teknologi kepada masyarakat pesisir.
Melalui Aplikasi Tangkap, nelayan diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih terarah dalam menentukan lokasi penangkapan, sekaligus meningkatkan efisiensi dan memperhatikan aspek keselamatan saat melaut.
Jika pengembangan teknologi tersebut semakin matang, Aplikasi Tangkap juga diharapkan dapat dimanfaatkan di wilayah pesisir lainnya.















