OPINI :
Bukittinggi,- Suaraguru.id- Seiring waktu dan tahun kebijakan untuk bidang pendidikan dengan dukungan Gizi yg hampir merata dengan segala plus minusnya.
Pendidikan yang berproses di Bukittinggi terus jalankan rutinitas pendidik yang berbasis keagamaan yang kental hal ini dalam rangka membentuk dari dini pada adabilitas serta etekabilitan yang dikenal dengan Adab dan sopan santun yang juga tetuang dalam kearifan lokal untuk beradab dan beradat.
Bukittinggi yang disebut sebagai koto rang Agam disisi lain Bukittinggi adalah kota perjuangan selalu menekankan raso Jo PARESO ( rasa dan Periksa) demikian hidangan khazanah pendidik dan pendidikan di Bukittinggi kota perjuangan.
Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pengabdi pendidikan … Eko St mantari ….
Dapat kita jabarkan sesungguhnya pendidikan itu simple dan tidak perlu dipersulit apalagi dilakukan dengan kesungguhan profesi mengayomi dan kesungguhan.
Hal ini ditambahkan oleh salah seorang PLT Kepala Sekolah SDN 12 bahwa “Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, namun juga sinergi antara sekolah, keluarga dan lingkungan dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai budaya dan adat istiadat yang menjadi jati diri masyarakat Minangkabau.”
Pendidikan bukan saja datang belajar dan pulang, akan tetapi sapa, senyum dan sentuh terkadang lebih menentukan terhadap konsentrasi dan fokus untuk lebih humanis dalam menimba ilmu di berbagai tingkatan dan jenjang pendidikan.
Keseriusan tenaga pengajar dalam mengimplementasikan tugas dan tanggung jawab tidak terlepas dari peran orang tua disisi lain tentang pendidikan anak tidak bisa hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para guru namun peran orang tua lebih menyempurnakan tujuan pendidikan yang hendak dicapai seperti tanggapan dari salah seorang wali murid Yan (43) tahun mangutarakan
Harapan agar pendidikan bener bener bisa tidak berbiaya kedepannya Mengingat semakin tingginya tuntutan tekhnologi dan IT yang harus dibarengi dengan label mahal yang akan terus berganti, namun jika keterjaminan ini ada tentu kita orangtua sangat terbantu dengan pendidikan gratis dimasa yg akan datang demikian harap yang keseharian sebagai Ojol
Pendidikan untuk Terdidik sangat segar dirasakan dan bukan untuk pendidikan untuk langsung bekerja satu persepsi yang membutuhkan lampiran yg sangat banyak. (Nels)Pendidikan untuk Terdidik …?
Bukittinggi, Suara Guru. Seiring waktu dan tahun kebijakan untuk bidang pendidikan dengan dukungan Gizi yg hampir merata dengan segala plus minusnya.
Pendidikan yang berproses di Bukittinggi terus jalankan rutinitas pendidik yang berbasis keagamaan yang kental hal ini dalam rangka membentuk dari dini pada adabilitas serta etikabilitas yang dikenal dengan Adab dan sopan santun yang juga tetuang dalam kearifan lokal untuk beradab dan beradat.
Bukittinggi yang disebut sebagai koto rang Agam disisi lain Bukittinggi adalah kota perjuangan selalu menekankan raso Jo pareso ( rasa dan Periksa) demikian hidangan khazanah pendidik dan pendidikan di Bukittinggi kota perjuangan.
Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pengabdi pendidikan … Eko Noresha. S.Pd pendidikan hakikatnya adalah memanusiakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan nya, pendidikan bagi kota bukittinggi sendiri tidak terlepas dari adaik basandi syarak sayrak basandi kitabullah yang telah mengisi sanubari pendidik anak didik dari dahulu kala di bukittinggi kususnya dan minangkabau sumbar pada umumnya. Ada di sana nilai yang tertanam baik dari pelajaran BAM (budaya alam minabgkabau) maupun pelajaran lainnya yang membantuk suatu karakter hasil pendidikan tersebut, pendidikan tentu tidak hanya di kelas formal pendidikan juga bisa di dapat di berbagai macam comunitas organisasi dan lainnya bahkan dari kedai kopi sekalipun ,seperti falsafah kita alam takambang jadi guru.Jadi arti kata pendidikan bisa dimanapun.tinggal bagaimana kita menerima dan menjalankan ilmu tadi di kehidupan sehari hari.
Dapat kita jabarkan sesungguhnya pendidikan itu simple dan tidak perlu dipersulit apalagi dilakukan dengan kesungguhan profesi mengayomi dan kesungguhan.
Hal ini ditambahkan oleh salah seorang Kepala Sekolah SDN 12 Ridha Hayati. M.Pd bahwa Pendidikan bukan saja datang belajar dan pulang, akan tetapi sapa, senyum dan sentuh terkadang lebih menentukan terhadap konsentrasi dan fokus untuk lebih humanis dalam menimba ilmu di berbagai tingkatan dan jenjang pendidikan.
Keseriusan tenaga pengajar dalam mengimplementasikan tugas dan tanggung jawab tidak terlepas dari peran orang tua disisi lain tentang pendidikan anak tidak bisa hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para guru namun peran orang tua lebih menyempurnakan tujuan pendidikan yang hendak dicapai seperti tanggapan dari salah seorang wali murid Yan (43) tahun mangutarakan
Harapan agar pendidikan bener bener bisa tidak berbiaya kedepannya Mengingat semakin tingginya tuntutan tekhnologi dan IT yang harus dibarengi dengan label mahal yang akan terus berganti, namun jika keterjaminan ini ada tentu kita orangtua sangat terbantu dengan pendidikan gratis dimasa yg akan datang demikian harap yang keseharian sebagai Ojol
Pendidikan untuk Terdidik sangat segar dirasakan dan bukan untuk pendidikan untuk langsung bekerja satu persepsi yang membutuhkan lampiran yg sangat banyak. (Nels)













