Pelajar Pangandaran Rawat Ingatan Munir Lewat Ruang Refleksi dan Pembelajaran HAM

Event69 Dilihat

PANGANDARAN, SUARA GURU – Memperingati 22 tahun wafatnya aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib, para pelajar di Kabupaten Pangandaran menggelar kegiatan refleksi di Alun-Alun Parigi, Senin (7/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Mengenang 22 Tahun Kematian” tersebut digagas oleh OSIS SMK Bakti Karya Parigi bersama Pangandaran Kolektifa. Selain mengenang perjalanan perjuangan Munir, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk belajar memahami HAM, keadilan, serta berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

Suasana kegiatan diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari ziarah, refleksi, orasi, pembacaan puisi hingga pertunjukan musik akustik. Berbagai bentuk ekspresi tersebut menjadi sarana bagi pelajar untuk menyampaikan gagasan dan keresahan mereka.

Pembina OSIS SMK Bakti Karya Parigi, Rendi Stiadi, mengatakan keterlibatan siswa dalam kegiatan tersebut berawal dari keinginan para pelajar untuk memiliki ruang dalam membicarakan persoalan sosial.

Menurutnya, sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membangun kepekaan sosial dan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.

“Anak-anak memiliki keresahan terhadap berbagai persoalan yang mereka lihat. Keresahan itu harus diberi ruang supaya bisa berkembang menjadi gagasan dan proses belajar,” ujar Rendi.

Ia menjelaskan, sosok Munir menjadi salah satu momentum bagi pelajar untuk mengenal lebih jauh sejarah perjuangan HAM di Indonesia.

Namun, menurut Rendi, mengenang Munir tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa dirinya dan bagaimana perjalanan hidupnya. Hal yang lebih penting adalah bagaimana generasi muda dapat mengambil nilai dari perjuangannya.

“Yang ingin kami dorong adalah bagaimana anak-anak belajar dari sejarah. Mereka tidak hanya mengetahui peristiwa, tetapi juga mampu melihat nilai keberanian, keadilan dan kemanusiaan yang ada di dalamnya,” katanya.

Rendi menilai lingkungan pendidikan harus memberikan ruang yang sehat bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi.

“Pelajar tidak harus selalu menjadi penerima informasi. Mereka juga harus memiliki kesempatan untuk bertanya, berdiskusi dan menyampaikan pandangan. Berpikir kritis merupakan bagian penting dari proses pendidikan,” ujarnya.

Ia berharap pembelajaran mengenai HAM tidak berhenti pada teori di dalam kelas. Siswa perlu diajak melihat keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sosial di sekitarnya.

Sementara itu, Ketua OSIS SMK Bakti Karya Parigi, Nur Afiqa Zakirah, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman bagi para siswa untuk terlibat langsung dalam ruang refleksi dan diskusi mengenai HAM.

Menurutnya, para pelajar dapat belajar bahwa kepedulian terhadap persoalan sosial merupakan bagian dari kehidupan sebagai generasi muda.

“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya mengenang Munir, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar dan memahami persoalan HAM serta berani menyampaikan pendapat dengan cara yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Pesan-pesan reflektif kemudian disampaikan melalui orasi, puisi dan musik akustik. Para peserta juga membawa sebuah pertanyaan yang menjadi bagian penting dari perenungan kegiatan tersebut:

“22 tahun berlalu, tetapi pertanyaan-pertanyaan itu belum selesai.”

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak semestinya hanya disimpan sebagai catatan masa lalu. Sejarah dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami berbagai persoalan keadilan dan kemanusiaan yang masih terjadi hingga saat ini.

Bagi OSIS SMK Bakti Karya Parigi, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran di luar ruang kelas. Para siswa didorong untuk memiliki keberanian berpikir, kepekaan terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap persoalan sosial.

Peringatan 22 tahun wafatnya Munir di Pangandaran pun menjadi ruang pertemuan antara sejarah dan pendidikan. Dari Alun-Alun Parigi, para pelajar belajar bahwa mengenang masa lalu bukan sekadar mengingat sebuah peristiwa, tetapi juga berusaha memahami maknanya dan menjadikannya pijakan untuk melihat kehidupan hari ini.

Dengan semangat tersebut, refleksi Munir diharapkan mampu menumbuhkan generasi pelajar yang tidak apatis, berani berpikir kritis, serta memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *