Revitalisasi Sekolah Pascabencana, Aceh-Sumbar Capai 98,61 Persen, NTT Baru 19,35 Persen

Sekolahku142 Dilihat

JAKARTA, SUARAGURU.ID– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat progres revitalisasi sekolah terdampak bencana di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan capaian berbeda. Di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebanyak 98,61 persen sekolah sasaran telah selesai direvitalisasi. Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur (NTT), penyelesaiannya baru mencapai 19,35 persen.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan perkembangan tersebut dalam Taklimat Media Capaian Dua Tahun Kemendikdasmen di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Menurut Mu’ti, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,4 triliun untuk memulihkan layanan pendidikan setelah bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari total 3.178 sekolah yang menjadi sasaran revitalisasi di tiga provinsi tersebut, sebanyak 3.134 sekolah telah menyelesaikan proses perbaikan.

“Untuk bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada 3.134 dari 3.178 sekolah sasaran atau 98,61% sudah selesai direvitalisasi,” kata Mu’ti.

Selain di tiga provinsi tersebut, pemerintah juga menangani sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana di wilayah lainnya. Dari 749 sekolah yang menjadi sasaran, sebanyak 747 sekolah telah selesai direvitalisasi atau mencapai 99,73 persen.

Namun, capaian berbeda terlihat di NTT yang masih menjalani proses pemulihan pascagempa. Dari 2.119 sekolah yang menjadi sasaran revitalisasi, baru 410 sekolah yang telah selesai diperbaiki, setara dengan 19,35 persen.

Mu’ti mengakui pelaksanaan revitalisasi di NTT mengalami keterlambatan. Salah satu faktor yang memengaruhi proses tersebut adalah kondisi wilayah yang belum sepenuhnya kondusif akibat aktivitas gempa susulan.

“Memang keterlambatan pelaksanaan itu sebagian karena situasi di Nusa Tenggara Timur memang masih belum sepenuhnya kondusif,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah NTT. Bahkan, berdasarkan laporan yang diterimanya sebelum kegiatan taklimat media berlangsung, gempa susulan kembali terjadi di wilayah Nagekeo.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan, mengingat keamanan lingkungan dan kesiapan pelaksanaan perlu diperhatikan dalam proses pembangunan maupun perbaikan sekolah.

Di sisi lain, Kemendikdasmen mencatat secara keseluruhan sebanyak 55.314 satuan pendidikan telah direvitalisasi pada 2026. Jumlah tersebut melampaui target awal sebanyak 42.184 sekolah.

Program revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah yang terdampak bencana, satuan pendidikan dengan kondisi bangunan rusak, serta sekolah yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Pemerintah menilai revitalisasi tidak hanya bertujuan memperbaiki infrastruktur pendidikan, tetapi juga mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar, meningkatkan keamanan lingkungan sekolah, serta memberikan dampak ekonomi melalui pelaksanaan pembangunan.

Kemendikdasmen berencana melanjutkan program revitalisasi hingga 2029 dengan target menghapus kondisi bangunan sekolah rusak di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, percepatan perbaikan di wilayah yang masih menghadapi kendala kebencanaan menjadi salah satu tantangan yang perlu ditangani.

Dengan capaian yang telah diperoleh di berbagai daerah, pemerintah diharapkan dapat memastikan seluruh peserta didik memperoleh fasilitas pendidikan yang aman dan layak. Sementara itu, penyelesaian revitalisasi di NTT masih memerlukan perhatian khusus agar pemulihan sarana pendidikan dapat berlangsung sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *