Dua Atlet Tapak Suci Jayaloka Raih Prestasi di Kejuaraan Pencak Silat Linggau Berbudaya 2026

Gibran Borong Dua Medali Perak, M. Nopal Muzaki Sumbang Perunggu

Olahraga28 Dilihat

SUARA GURU. ID. LUBUK LINGGAU — Prestasi membanggakan ditorehkan dua atlet muda Perguruan Tapak Suci Jayaloka dalam ajang Kejuaraan Pencak Silat Linggau Berbudaya Tahun 2026 yang berlangsung di Taman Olahraga Megang (TOM), Kota Lubuk Linggau, pada 24–25 Oktober 2026.

Kejuaraan yang diikuti sekitar 370 atlet dari wilayah Musi Rawas, Kota Lubuk Linggau, dan Musi Rawas Utara (Muratara) tersebut mempertemukan pesilat dari berbagai perguruan, kelas pertandingan, dan kategori. Ajang ini menjadi ruang kompetisi sekaligus sarana mengukur kemampuan, kedisiplinan, mental bertanding, serta hasil pembinaan atlet pencak silat usia dini dan remaja.

Dari kejuaraan tersebut, Muhammad Gibran Prima Al-Ayubi berhasil membawa pulang dua medali perak, masing-masing pada kategori seni tunggal tangan kosong dan kategori fighter kelas Under A. Sementara itu, M. Nopal Muzaki meraih medali perunggu pada kategori fighter kelas A pra-remaja.

Capaian ini menjadi hasil positif bagi pembinaan atlet Tapak Suci Jayaloka yang bermarkas di MTs Muhammadiyah Ngestiboga II, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas.

Gibran Raih Dua Medali Perak

Muhammad Gibran Prima Al-Ayubi, siswa kelas IV SDN Donorojo, merupakan putra pasangan Adi, S.Pd., dan Pariyas Sri, S.Si. Dalam kejuaraan tersebut, Gibran menunjukkan kemampuannya melalui dua kategori yang berbeda, yakni seni tunggal tangan kosong dan fighter kelas Under A.

Dua medali perak yang diraihnya menjadi capaian tersendiri bagi atlet muda tersebut. Selain membutuhkan penguasaan teknik, kategori seni menuntut ketepatan gerak, konsistensi, dan penghayatan jurus. Sementara itu, kategori fighter menuntut kesiapan fisik, strategi, pengendalian emosi, serta kemampuan mengambil keputusan selama pertandingan.

Meski belum berhasil mencapai posisi tertinggi, prestasi Gibran menunjukkan bahwa kerja keras dan keberanian untuk bertanding dapat menghasilkan pencapaian yang patut diapresiasi.

Gibran menyampaikan rasa syukurnya atas hasil yang diperoleh dalam kejuaraan tersebut. Ia mengaku senang dapat membawa pulang dua medali perak, meskipun belum berhasil meraih medali emas.

“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mendapatkan dua medali perak. Saya sudah berusaha memberikan yang terbaik dan mengikuti arahan pelatih. Walaupun belum menjadi juara pertama, saya tetap senang dan akan terus berlatih agar bisa tampil lebih baik pada kejuaraan berikutnya. Terima kasih kepada orang tua, pelatih, official, dan semua yang telah mendukung saya,” demikian draf pernyataan yang dapat dikonfirmasi kepada Gibran.

Capaian tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi Gibran untuk terus meningkatkan kemampuan, memperbaiki kekurangan, dan menjaga semangat berlatih. Dalam olahraga prestasi, hasil pertandingan bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang proses belajar, ketangguhan mental, dan kemauan untuk berkembang.

M. Nopal Muzaki Raih Medali Perunggu

Prestasi lainnya diraih M. Nopal Muzaki, siswa kelas IX MTs Muhammadiyah Ngestiboga II, putra pasangan Zainal Aripin dan Leni Marlina. Ia berhasil meraih medali perunggu pada kategori fighter kelas A pra-remaja.

Pencapaian Nopal menambah hasil positif bagi kontingen Tapak Suci Jayaloka dalam kejuaraan tersebut. Bagi atlet usia remaja, pengalaman menghadapi lawan dari berbagai perguruan merupakan bagian penting dari proses pembentukan kemampuan teknik, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Medali perunggu yang diraih Nopal sekaligus menjadi bekal evaluasi untuk meningkatkan kualitas latihan dan kesiapan menghadapi pertandingan berikutnya.

Pelatih: Prestasi Harus Diiringi Evaluasi dan Disiplin

Pelatih Tapak Suci Jayaloka, Feri Ade Irawan, S.Sos., memiliki peran dalam proses pembinaan dan persiapan atlet untuk menghadapi kompetisi. Kejuaraan seperti Linggau Berbudaya 2026 menjadi kesempatan untuk melihat sejauh mana hasil latihan dapat diterapkan dalam situasi pertandingan sesungguhnya.

“Alhamdulillah, kami bersyukur atas hasil yang diraih anak-anak. Dua medali perak dari Gibran dan satu medali perunggu dari Nopal merupakan hasil yang patut diapresiasi. Namun, kami tidak ingin berhenti pada perolehan medali saja. Masih ada hal-hal yang perlu dievaluasi, baik dari sisi teknik, fisik, mental bertanding, maupun kedisiplinan latihan.”

Official: Dukungan dan Persiapan Menjadi Bagian Penting

Official kontingen, Adi, S.Pd., yang juga merupakan ayah Gibran, turut mendampingi perjalanan atlet dalam kegiatan kejuaraan tersebut.

Pendampingan official dalam kompetisi olahraga memiliki arti penting, mulai dari membantu koordinasi, memastikan kesiapan atlet, hingga memberikan dukungan selama kegiatan berlangsung.

“Kami bersyukur anak-anak dapat mengikuti kejuaraan dengan baik dan membawa pulang medali. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya hasil akhir, tetapi juga keberanian mereka untuk bertanding, mengikuti arahan pelatih, menjaga sportivitas, dan memperoleh pengalaman. Hasil ini akan menjadi bahan evaluasi untuk persiapan kejuaraan selanjutnya.

Dukungan Penonton Menambah Semangat Pertandingan

Kejuaraan pencak silat tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan atlet, tetapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan perkembangan olahraga bela diri dan memberikan dukungan terhadap generasi muda.

“Sangat membanggakan melihat anak-anak muda berani tampil dan menunjukkan kemampuan mereka. Menang atau kalah merupakan bagian dari pertandingan. Yang penting mereka menjunjung sportivitas, menghormati lawan, dan terus berlatih. Semoga semakin banyak atlet muda dari Musi Rawas yang berprestasi.”

Tapak Suci Jayaloka di Tengah Keberagaman Perguruan

Kejuaraan Linggau Berbudaya 2026 diikuti atlet dari berbagai perguruan pencak silat, di antaranya Elang Putih, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Pagar Nusa, HIMSI, Macan Hitam, Benteng Putra Buana, Ikatan Keluarga Silat Putera Indonesia (IKSPI), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Keberagaman perguruan tersebut menjadi bagian dari dinamika pembinaan pencak silat di wilayah Musi Rawas, Lubuk Linggau, dan Muratara. Setiap perguruan memiliki proses pembinaan masing-masing, sementara pertandingan mempertemukan para atlet dalam aturan kompetisi yang harus dijunjung bersama.

Bagi Tapak Suci Jayaloka, hasil yang diraih Gibran dan Nopal diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi atlet lainnya untuk meningkatkan kualitas latihan, menjaga disiplin, dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi mendatang.

Prestasi ini juga menunjukkan pentingnya dukungan orang tua, pelatih, official, sekolah, dan lingkungan perguruan dalam mendampingi perkembangan atlet muda. Pembinaan yang berkelanjutan diperlukan agar potensi para pesilat dapat berkembang secara bertahap dan terarah.

Bukan Sekadar Medali, tetapi Langkah Menuju Prestasi. 

Dua medali perak yang diraih Gibran dan satu medali perunggu yang diperoleh Nopal menjadi hasil yang patut diapresiasi. Meski belum mencapai puncak juara, keduanya telah memperoleh pengalaman berharga dalam menghadapi persaingan dan menguji kemampuan di gelanggang.

Bagi Gibran, dua medali perak merupakan alasan untuk bersyukur sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Bagi Nopal, medali perunggu menjadi pijakan untuk memperbaiki kemampuan dan menatap pertandingan berikutnya dengan persiapan yang lebih matang.

Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan atlet tidak hanya diukur dari jumlah medali, tetapi juga dari proses, disiplin, karakter, dan konsistensi dalam berlatih. Dari gelanggang Linggau Berbudaya 2026, Tapak Suci Jayaloka membawa pulang hasil pertandingan sekaligus pengalaman yang diharapkan menjadi modal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi pada masa mendatang.

Kontributor: [RZ]
Editor: [RZ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *