Disertasi Doktor UNS Ungkap Titik Layu Bawang Merah Tak Selalu di pF 4,2

Kampus Kami, Nasional102 Dilihat

 

SURAKARTA, SUARAGURU.ID – Di tengah meningkatnya tantangan ketersediaan air bagi sektor pertanian, sebuah riset doktoral di Universitas Sebelas Maret menghadirkan temuan yang dinilai memberi perspektif baru dalam pengelolaan irigasi tanaman bawang merah. Temuan tersebut dipaparkan dalam ujian tertutup promosi doktor oleh Kamelia Dwi Jayanti, dosen asal Universitas Sintuwu Maroso, melalui disertasi berjudul “Penentuan Titik Layu Permanen pada Berbagai Tekstur Tanah dan Kombinasinya dengan Amelioran sebagai Pedoman Aplikasi Irigasi Defisit pada Tanaman Bawang Merah (Allium cepa var. Aggregatum)” yang telah berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Ruang Seminar Gedung B Fakultas Pertanian UNS.

Sidang promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ketua Penguji Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng dengan Sekretaris Penguji Dr. Ir. Herry Widijanto, S.P., M.P.. dengan tim Penguji : Penguji eksternal dalam sidang itu adalah Prof. Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, M.P., M.Sc., dari Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara penguji internal menghadirkan Ir. Dwi Priyo Ariyanto, SP., M.Sc. Ph.D.. didampingi Tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Ongko Cahyono, M.Sc., Komariah, STP., M.Sc. Ph.D, dan Prof. Dr. Ir. Mujiyo, SP., MP..

Dokumentasi : Ketua Penguji Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng bersama Promovenda 

Promovenda memaparkan bahwa penelitiannya menyoroti persoalan mendasar yang selama ini cenderung dipandang seragam dalam ilmu tanah dan pengelolaan air, yakni titik layu permanen tanaman. Secara umum nilai pF 4,2 merupakan nilai batas tanaman mengalami layu permanen. Dalam ilmu tanah, pF merupakan ukuran untuk menggambarkan seberapa kuat tanah menahan air. Semakin tinggi nilai pF, artinya tanah semakin sulit melepaskan air untuk diserap akar tanaman. Dengan kata lain, tanaman akan semakin kesulitan memperoleh air meski di dalam tanah masih tersisa kadar air tertentu.

Namun, hasil penelitian Kamelia menunjukkan bahwa kondisi tersebut tidak selalu sama pada setiap jenis tanah. Pada tanah bertekstur pasir (sand), tanaman bawang merah masih mampu bertahan pada kondisi potensial air yang lebih rendah. Sebaliknya, pada tanah sandy loam, loam, silt loam, hingga clay, tanaman justru mengalami layu permanen pada kadar air yang jauh lebih tinggi, bahkan mendekati kondisi kering oven. Temuan ini memperlihatkan bahwa setiap tekstur tanah memiliki kemampuan berbeda dalam menyimpan sekaligus menyediakan air bagi tanaman.

Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa tanah memiliki “cara berbeda” dalam memegang air. Tanah pasir, misalnya, lebih cepat melepas air sehingga akar tanaman masih dapat mengambil sisa air pada kondisi yang lebih kering. Sebaliknya, pada tanah yang lebih halus seperti liat, air justru terikat lebih kuat sehingga tanaman bisa mengalami layu meskipun tanah tampak masih menyimpan air.

Bagi dunia pertanian, hasil riset tersebut dinilai memiliki arti penting, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan efisiensi penggunaan air di sektor hortikultura. Melalui pendekatan yang lebih spesifik berdasarkan tekstur tanah, pola irigasi defisit dinilai dapat diterapkan secara lebih tepat, sehingga penggunaan air menjadi lebih hemat tanpa mengurangi kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi.

Suasana sidang berlangsung hangat namun tetap sarat nuansa akademik. Berbagai pertanyaan mendalam diajukan para penguji, mulai dari ketepatan pengukuran potensial matriks tanah, pengaruh amelioran terhadap retensi air, hingga kemungkinan penerapan hasil penelitian di tingkat lapangan. Dengan penyampaian yang tenang dan argumentasi ilmiah yang runtut, Kamelia mampu menjelaskan setiap tahapan penelitian secara meyakinkan.

Selain substansi penelitian yang mendapat perhatian para penguji, capaian akademik promovenda juga menjadi catatan tersendiri. Program doktor berhasil ditempuh dalam waktu 3 tahun 10 bulan dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Capaian tersebut mencerminkan konsistensi akademik sekaligus ketekunan dalam menyelesaikan penelitian yang menuntut ketelitian tinggi.

Lebih dari sekadar karya akademik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan baru dalam pengembangan sistem budidaya bawang merah yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dan keterbatasan air. Di tengah ancaman perubahan iklim yang mulai dirasakan di berbagai sentra produksi hortikultura, pendekatan irigasi berbasis karakteristik tanah seperti yang ditawarkan dalam disertasi ini dinilai memiliki prospek besar untuk diterapkan secara lebih luas di tingkat petani. *(SB)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *