SUARAGURU.ID-Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan inisiatif kolaborasi multipihak sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas literasi dan numerasi siswa di Indonesia. Program ini menggandeng sejumlah lembaga internasional ternama, seperti Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF, sebagai mitra utama dalam mendorong percepatan peningkatan mutu pendidikan dasar nasional.
Sebagai tahap awal, program ini akan diterapkan di enam kota dan kabupaten yang telah ditetapkan sebagai wilayah percontohan. Fokus utama kerja sama tersebut adalah memperbaiki capaian kemampuan dasar siswa, khususnya dalam membaca, menulis, dan berhitung, yang selama ini masih menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa penguatan kemampuan literasi dan numerasi harus dimulai sejak jenjang pendidikan dasar, terutama pada siswa kelas awal sekolah dasar. Menurutnya, penguasaan kemampuan dasar tersebut merupakan fondasi utama bagi peserta didik untuk memahami berbagai disiplin ilmu pada jenjang pendidikan berikutnya.
“Jika fondasi ini kuat, maka proses belajar siswa ke depan akan jauh lebih baik. Mereka tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga memahami konsep secara menyeluruh,” ujar Abdul Mu’ti.
Dalam implementasinya, pemerintah menetapkan tiga fokus utama yang akan menjadi prioritas program. Pertama, penyelarasan kompetensi siswa, yakni memastikan proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan usia anak melalui pendekatan pedagogi yang tepat. Kedua, pembiasaan membaca, dengan mendorong budaya literasi sejak dini agar siswa terbiasa membaca secara konsisten. Ketiga, penguatan numerasi, melalui metode pembelajaran berhitung yang efektif guna melatih kemampuan berpikir logis dan analitis anak.
Melalui penerapan tiga strategi tersebut, pemerintah berharap tercipta ekosistem pendidikan dasar yang lebih kokoh, sehingga siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pelajaran.
Program kolaboratif ini juga dirancang untuk menghasilkan inovasi pendidikan yang terukur melalui pelatihan dan pendampingan intensif bagi tenaga pendidik. Sebanyak 500 sekolah dasar negeri ditargetkan menjadi penerima manfaat langsung dari program ini.
Selain itu, sekitar 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah akan mendapatkan pelatihan khusus guna meningkatkan kapasitas mereka dalam menerapkan metode pembelajaran literasi dan numerasi yang lebih efektif di ruang kelas.
Secara keseluruhan, program ini diproyeksikan dapat memberikan dampak positif bagi sedikitnya 45.000 siswa hingga tahun 2029.
Pemerintah pun menargetkan hasil nyata dari program ini mulai terlihat dalam tiga tahun ke depan. Abdul Mu’ti berharap, ke depan tidak lagi ditemukan peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi yang masih mengalami kesulitan dalam membaca maupun berhitung. Langkah kolaboratif ini menjadi bukti komitmen pemerintah untuk memperkuat kualitas pendidikan Indonesia dari akar paling dasar, yakni memastikan setiap anak memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang memadai sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.v















