Gus Musyaffa: Problem Keluarga Jadi Pemicu Maraknya Kekerasan Seksual

Event, Guru86 Dilihat

BREBES, SUARAGURU.ID – Maraknya kasus kekerasan seksual dan pergaulan bebas di kalangan pelajar dan santri dinilai tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga. Kondisi tersebut bahkan disebut telah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan bersama dari berbagai pihak.

Hal itu disampaikan Anggota DPRD Jawa Tengah Gus H. Musyaffa, Lc saat menjadi narasumber dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema “Santri dan Pelajar Anti Kekerasan Seksual” di Pendopo Kawedanan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Ketua PC IPNU Brebes M. Ilham Bagus S., S.Ag tersebut diikuti sekitar 25 lembaga pendidikan, mulai dari madrasah tsanawiyah (MTs) hingga pondok pesantren di Kabupaten Brebes.

“Pergaulan bebas dan kekerasan seksual sudah berada di titik ambang kritis yang mengkhawatirkan. Banyak problem dan banyak hal yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah permasalahan keluarga atau broken home yang terjadi di rumah tangga mereka,” ujar Gus Musyaffa.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah ataupun aparat penegak hukum. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat dalam upaya pencegahan dan pendampingan terhadap anak-anak dan remaja.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, baik orang tua, komunitas, jamaah, maupun organisasi kemasyarakatan. Karena persoalan ini sudah merambah ke tingkatan sekolah-sekolah menengah,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada IPNU Brebes yang dinilai memiliki kepedulian besar terhadap isu perlindungan anak.

“Kami bersyukur dan berterima kasih kepada IPNU yang dengan kesadaran sendiri, dengan tekad sendiri, dengan anggaran yang mereka cari sendiri untuk menyelenggarakan acara ini,” ujarnya.

FGD bertema “Wujudkan Kepedulian, Bangun Kesadaran, Ciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman dan Ramah” itu menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Anggota DPRD Jawa Tengah Gus H. Musyaffa, Lc, Kapolsek Paguyangan AKP Tasudin, S.H., M.H., Ketua Tanfidziyah PCNU Brebes KH. Sholahudin M, dan Ketua Satgas PPA Brebes M. Fathur Rozaq, M.Pd. Diskusi dipandu oleh moderator M. Topik Nurrohman.

Kegiatan tersebut juga dihadiri unsur badan otonom Nahdlatul Ulama, seperti PAC Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU. Mereka menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya kasus pelecehan seksual yang melibatkan usia pelajar serta mendorong langkah konkret untuk mencegahnya.

Gus Musyaffa menilai perkembangan teknologi informasi juga perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, penggunaan telepon genggam yang tidak disertai pendampingan dan pengawasan dapat menjadi salah satu pintu masuk berbagai pengaruh negatif terhadap anak.

“Anak-anak harus dibimbing agar menggunakan telepon genggam secara cerdas. Orang tua tidak boleh lepas tangan. Pendampingan dan pengawasan sangat penting agar mereka tidak terjerumus pada perilaku yang menyimpang,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan ketahanan keluarga harus menjadi perhatian bersama. Hubungan antara orang tua dan anak perlu kembali diperkuat agar anak memiliki ruang yang aman untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan.

“Problem keluarga ini harus ditata. Hubungan keluarga harus direkatkan kembali. Jangan sampai anak kehilangan tempat pulang untuk berdialog dan mendapatkan kasih sayang. Pencegahan kekerasan seksual harus dimulai dari keluarga,” kata Gus Musyaffa.

Sebagai tindak lanjut, materi pencegahan kekerasan seksual direncanakan akan dimasukkan dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah-sekolah melalui kerja sama dengan pihak kepolisian.

Melalui edukasi yang berkelanjutan dan keterlibatan semua pihak, para peserta berharap lingkungan pendidikan di Kabupaten Brebes dapat menjadi ruang yang aman, ramah, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan seksual, sehingga pelajar dan santri dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *