Kabut Asap Karhutla Kepung Kalimantan, Jam Sekolah Diundur dan Kasus ISPA Melonjak

Nasional, Sekolahku103 Dilihat

SUARAGURU.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan semakin meluas dan menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Selain mengganggu jarak pandang dan penerbangan, kabut asap juga menyebabkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat serta mendorong pemerintah melakukan penyesuaian kegiatan sekolah.

Di Kalimantan Tengah (Kalteng), BPBD mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai 148,71 hektare. Kebakaran tersebut berasal dari 46 kejadian dengan 1.026 titik panas yang terdeteksi.

Penanganan karhutla pun diperkuat dengan mengerahkan sekitar 10.700 personel gabungan. Upaya pemadaman juga mendapat dukungan lima helikopter dan satu pesawat yang digunakan untuk operasi modifikasi cuaca.

Beberapa wilayah di Kalteng turut mengalami kebakaran dengan luas yang cukup signifikan. Kabupaten Kotawaringin Barat tercatat mengalami delapan kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 46,7 hektare. Sementara itu, Sukamara mencatat satu kejadian yang membakar sekitar 37 hektare lahan.

Kondisi semakin mengkhawatirkan karena asap pekat menyelimuti sejumlah wilayah. Di Palangka Raya, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sempat mencapai 487 dan masuk kategori berbahaya. Jarak pandang di sejumlah lokasi juga menurun hingga sekitar 1,4 kilometer.

Kasus ISPA Capai Puluhan Ribu

Dampak kabut asap mulai terasa pada kesehatan masyarakat. BPBD Kalteng mencatat sebanyak 66.679 kasus ISPA di tengah memburuknya kondisi karhutla dan kualitas udara.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan asap. Kondisi udara yang buruk juga dapat mengganggu aktivitas belajar dan kegiatan luar ruangan di sekolah.

Jam Masuk Sekolah Diubah

Demi mengurangi paparan asap, Pemerintah Kota Palangka Raya melakukan penyesuaian terhadap jadwal pendidikan. Jam masuk sekolah untuk jenjang SD dan SMP diundur menjadi pukul 08.00 WIB.

Sementara itu, kegiatan pembelajaran bagi anak PAUD dapat dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh atau daring.

“Kondisi kabut asap yang semakin pekat memaksa kita untuk mengambil langkah taktis dan adaptif. Kesehatan siswa, guru, dan seluruh tenaga pendidikan menjadi prioritas utama, namun pembelajaran tetap harus berjalan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Palangka Raya Jayani.

Kebijakan serupa diterapkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Mulai Kamis (20/8/2026), jam masuk bagi siswa PAUD, TK, SD, dan SMP di wilayah yang terdampak kabut asap diundur menjadi pukul 09.00 WITA.

Sekolah yang berada di wilayah dengan kualitas udara lebih buruk juga diberikan kewenangan untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran berdasarkan kondisi di lapangan.

Selain perubahan jam belajar, sejumlah aktivitas luar ruangan seperti olahraga, upacara dan kegiatan ekstrakurikuler dapat dihentikan sementara. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi risiko siswa dan tenaga pendidik menghirup udara yang tercemar asap.

Penerbangan Ikut Terdampak

Dampak karhutla tidak hanya dirasakan sektor kesehatan dan pendidikan. Kabut asap juga mengganggu aktivitas penerbangan.

Sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin terdampak kabut asap pada Rabu (19/8/2026). Sejumlah penerbangan sempat mengalami penundaan karena jarak pandang yang terbatas.

Meski seluruh penerbangan yang terdampak kemudian kembali beroperasi, pihak bandara tetap mengingatkan penumpang untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat kondisi cuaca dan kabut asap.

Kondisi karhutla di Kalimantan menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Kesehatan masyarakat, kegiatan pendidikan hingga transportasi turut terkena imbas. Karena itu, penanganan kebakaran dan pencegahan meluasnya titik api menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *