KUPANG, SUARAGURU.ID – Kasus seorang mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengalami depresi setelah pembatalan ujian skripsinya menjadi perhatian publik. Mahasiswi berinisial JS tersebut kini masih menjalani perawatan medis akibat penurunan kondisi fisik dan psikis, sementara pihak kampus melakukan pendalaman terhadap peristiwa yang terjadi.
Peristiwa ini mencuat setelah video yang memperlihatkan JS menangis histeris beredar luas di media sosial. Dalam narasi yang beredar, ujian skripsinya disebut beberapa kali mengalami pembatalan, bahkan diduga hingga 12 kali, termasuk adanya permintaan pergantian dosen penguji menjelang jadwal ujian. Dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses investigasi internal kampus.
Dukungan terhadap JS datang dari berbagai pihak, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Melalui panggilan video yang dilakukan saat Rektor Undana mengunjungi JS di rumah sakit pada Sabtu (1/8), Menteri menyampaikan semangat agar mahasiswi tersebut fokus menjalani pemulihan dan dapat menyelesaikan studinya hingga meraih gelar sarjana.
Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, menegaskan bahwa prioritas utama kampus saat ini adalah memastikan kondisi kesehatan JS pulih sepenuhnya. Menurutnya, hak akademik mahasiswa tetap akan dijamin dan pihak universitas akan mengawal proses penyelesaian studi setelah kondisinya membaik.
“Kami sampaikan agar fokus dulu pada pemulihan kesehatannya. Soal kelanjutan studi dan hak akademiknya, kampus menjamin akan dipenuhi sepenuhnya,” ujar Prof. Jefri.
Selain memberikan pendampingan terhadap mahasiswi tersebut, Undana juga berkomitmen melakukan evaluasi terhadap prosedur bimbingan dan pelaksanaan ujian skripsi agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Kampus menyatakan akan mengawal proses akademik JS hingga selesai sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menegaskan bahwa universitas menerapkan prinsip zero tolerance terhadap setiap bentuk pelanggaran etika di lingkungan kampus. Ia meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada tim investigasi untuk bekerja secara objektif sebelum menarik kesimpulan.
“Prinsipnya Undana zero tolerance. Tidak ada toleransi untuk kekerasan atau pelanggaran dalam bentuk apa pun di kampus. Kami sedang mendalami seluruh fakta agar informasi yang keluar benar-benar akurat,” katanya.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, Prof. Apris Adu, menyampaikan bahwa setelah kondisi JS membaik, pihak fakultas akan menyiapkan pendampingan psikologis melalui Program Studi Psikologi. Ia juga menjelaskan bahwa proses klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait masih berlangsung sehingga kampus mengimbau masyarakat tidak berspekulasi hingga hasil investigasi diumumkan secara resmi.















