Dari Lahan ke Layar Digital: Saatnya Pertanian Presisi Mengubah Wajah Kota Lubuklinggau

OPINI : MAY SHISKA PUSPITASARI

Opini21 Dilihat

Di era transformasi digital yang semakin pesat dan merambah hampir semua aspek kehidupan, pertanian tidak bisa lagi mengandalkan metode tradisional. Teknologi kini menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar tambahan. Kota Lubuklinggau, yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa di bagian barat Sumatera Selatan, menghadapi tantangan serupa: bagaimana mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan, perubahan iklim, meningkatnya biaya produksi, dan menurunnya minat generasi muda untuk bertani.

Meskipun dikenal sebagai kota jasa, Lubuklinggau masih memiliki potensi pertanian yang signifikan. Berbagai komoditas hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan rakyat tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat di beberapa wilayah pinggiran kota. Namun, sektor ini memerlukan pendekatan baru agar dapat bersaing di era digital. Di sinilah pertanian presisi (precision agriculture) memberikan harapan baru.

Pertanian presisi adalah sistem budidaya yang menggunakan teknologi digital untuk membantu petani membuat keputusan lebih tepat berdasarkan kondisi lahan dan tanaman. Dengan memanfaatkan drone, sensor, Global Positioning System (GPS), Internet of Things (IoT), citra satelit, hingga aplikasi berbasis telepon pintar, petani dapat mengetahui kebutuhan spesifik tanaman. Dengan demikian, penggunaan pupuk, air, pestisida, dan benih dapat dilakukan tepat waktu, tepat dosis, dan tepat sasaran.

Pendekatan ini semakin relevan ketika petani menghadapi berbagai masalah yang semakin kompleks. Perubahan pola curah hujan membuat musim tanam sulit diprediksi. Harga pupuk yang terus naik menyebabkan biaya produksi meningkat. Selain itu, alih fungsi lahan dan berkurangnya tenaga kerja pertanian semakin mempersempit ruang gerak petani. Kondisi ini menuntut adanya sistem pertanian yang lebih efisien tanpa mengorbankan produktivitas maupun kelestarian lingkungan.

Karakteristik pertanian di Kota Lubuklinggau justru menjadi peluang bagi penerapan pertanian presisi. Sebagian besar lahan pertanian berada di kawasan pinggiran kota dengan luas yang relatif terbatas. Dalam situasi ini, setiap petak lahan harus dikelola secara optimal. Teknologi memungkinkan petani mengetahui bagian lahan yang membutuhkan lebih banyak pupuk, area yang mulai terserang hama, atau lokasi yang kekurangan air tanpa harus melakukan pengamatan manual setiap hari.

Bahkan, penggunaan teknologi tidak selalu identik dengan investasi mahal. Digitalisasi pertanian dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memanfaatkan aplikasi prakiraan cuaca sebelum menentukan jadwal tanam, mencatat biaya dan hasil usaha tani melalui telepon pintar, menggunakan aplikasi pemetaan lahan, hingga memasarkan hasil panen melalui media sosial atau marketplace. Langkah kecil ini dapat meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus memperluas akses pasar.

Kondisi Kota Lubuklinggau yang didukung jaringan internet yang semakin baik menjadi modal penting dalam mempercepat transformasi tersebut. Akses informasi pertanian kini semakin mudah diperoleh. Petani tidak lagi hanya bergantung pada pengalaman turun-temurun, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai sumber informasi digital untuk meningkatkan kemampuan budidaya maupun pemasaran hasil panen.

Transformasi ini memberikan kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk berpartisipasi. Selama ini, sektor pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan yang berat, kotor, dan kurang menarik. Namun, dengan kemajuan teknologi, pertanian kini menjadi sektor yang penuh inovasi dan memerlukan keterampilan dalam pengelolaan data, pengoperasian drone, analisis citra digital, serta penggunaan kecerdasan buatan. Pertanian modern justru menarik bagi generasi muda yang memiliki keterampilan di bidang teknologi informasi.

Kolaborasi antara petani berpengalaman dan generasi muda yang paham teknologi akan menjadi kekuatan baru dalam pembangunan pertanian di daerah. Pengetahuan lokal dari petani senior dapat digabungkan dengan kemampuan digital generasi muda, menciptakan sistem pertanian yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Namun, keberhasilan pertanian presisi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petani. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, pelaku usaha, dan lembaga keuangan harus membangun ekosistem inovasi yang saling mendukung. Pelatihan teknologi, penyediaan akses internet di area pertanian, bantuan alat modern, dan pembiayaan usaha tani berbasis teknologi adalah langkah nyata yang perlu terus diperkuat.

Lubuklinggau bahkan memiliki potensi untuk menjadi contoh pengembangan pertanian presisi di kawasan perkotaan di Sumatera Selatan. Skala lahan yang relatif kecil justru memudahkan penerapan berbagai inovasi digital sebelum diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik serupa.

Pada akhirnya, pertanian presisi bukan hanya tentang drone yang terbang di atas sawah atau aplikasi digital di layar ponsel. Pertanian presisi adalah perubahan cara berpikir dalam mengelola usaha tani yang berbasis data, efisiensi, dan keberlanjutan. Teknologi menjadi alat, sementara tujuan utamanya tetap sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga ketahanan pangan daerah.

Lubuklinggau memiliki modal untuk memulai perubahan ini. Sumber daya manusia yang terus berkembang, dukungan teknologi informasi yang semakin baik, serta posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah menjadi fondasi kuat menuju pertanian modern. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen bersama untuk menjadikan inovasi sebagai budaya, bukan sekadar program sementara.

Sudah saatnya pertanian di Kota Lubuklinggau tidak lagi dianggap sebagai sektor tradisional yang tertinggal oleh perkembangan zaman. Sebaliknya, pertanian harus tampil sebagai sektor yang modern, cerdas, efisien, dan berkelanjutan. Dari lahan menuju layar digital, transformasi ini bukan lagi sekadar wacana. Ini adalah langkah nyata menuju masa depan pertanian yang lebih maju dan sejahtera.*

 

Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pertanian Program Doktor Universitas Jambi yang memiliki minat kajian pada pertanian presisi, digitalisasi pertanian, dan pembangunan pertanian berkelanjutan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *