Demo Pelajar di Prancis Kembali Berlanjut, Sejumlah Sekolah Menengah Diblokade

Uncategorized82 Dilihat

SUARAGURU.ID – Aksi demonstrasi yang melibatkan pelajar di Prancis kembali berlangsung setelah libur musim gugur berakhir. Sejumlah siswa bahkan melakukan pemblokiran akses masuk sekolah menengah sebagai bentuk protes terhadap kondisi pendidikan yang dinilai masih belum sesuai dengan harapan mereka.

Dikutip dari Euronews, Selasa (3/11/2026), Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sekitar 1 persen dari total 3.700 sekolah menengah atas atau lycées mengalami pemblokiran. Sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan bagi pelajar berusia 15 hingga 18 tahun.

Aksi terbaru ini merupakan kelanjutan dari gelombang demonstrasi yang sebelumnya melibatkan ratusan ribu orang, termasuk pelajar, di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu. Unjuk rasa tersebut menjadi aksi ketiga secara berturut-turut dalam kurun waktu tiga pekan terakhir.

Awalnya, demonstrasi dipicu oleh persoalan biaya hidup. Namun, tuntutan para pelajar kemudian turut menyoroti kondisi pembelajaran dan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Aksi nasional para siswa sekolah menengah itu sendiri telah dimulai sejak September lalu.

Pemerintah Prancis sebenarnya telah mengumumkan sejumlah kebijakan untuk merespons aspirasi tersebut. Beberapa langkah yang disiapkan meliputi perubahan sistem penerimaan mahasiswa di universitas, penambahan jumlah tenaga pengajar, serta pembatasan jumlah siswa dalam setiap kelas.

Meski demikian, kebijakan tersebut belum sepenuhnya meredakan aksi protes. Sebagian pelajar menilai langkah pemerintah masih belum cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang mereka hadapi di lingkungan pendidikan.

Di Marseille, wilayah selatan Prancis, bentuk protes dilakukan dengan menumpuk sejumlah tempat sampah di depan pintu masuk salah satu sekolah menengah pada Senin pagi. Tindakan tersebut dilakukan untuk menghalangi akses masuk ke sekolah.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray meminta para siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ia mengingatkan bahwa aksi berkepanjangan berpotensi mengganggu persiapan akademik, terutama bagi pelajar yang akan menghadapi ujian baccalaureate pada akhir tahun ajaran.

Dalam wawancara dengan radio France Inter, Geffray mengungkapkan bahwa ratusan ribu siswa telah kehilangan waktu belajar selama beberapa pekan akibat tidak mengikuti kegiatan di kelas.

“Saya memiliki siswa yang akan mengikuti ujian baccalaureate pada akhir tahun ini, dan beberapa ratus ribu di antaranya tidak mengikuti kelas selama empat atau lima pekan,” ujarnya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga meminta agar aktivitas pendidikan kembali berjalan secara kondusif. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah mendengar aspirasi yang disampaikan oleh generasi muda melalui aksi demonstrasi tersebut.

“Kaum muda telah didengar,” kata Macron.

Di sisi lain, pemerintah Prancis menghadapi keterbatasan dalam memenuhi tuntutan tambahan para pelajar, khususnya yang membutuhkan peningkatan anggaran negara. Kondisi ekonomi Prancis yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di Uni Eropa tengah menghadapi ancaman resesi.

Selain itu, pemerintah juga mendapat tekanan untuk mengendalikan utang negara. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan langkah lanjutan untuk memenuhi tuntutan para demonstran sekaligus menjaga keberlangsungan kegiatan pendidikan di negara tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *