LUBUK LINGGAU, SUARAGURU.ID – Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Mutiara Cendekia Lubuk Linggau tidak hanya diisi dengan upacara dan berbagai kegiatan kemerdekaan. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk mengajak para pelajar membangun karakter, disiplin, serta tidak terjebak dalam kemalasan dan penggunaan teknologi secara berlebihan.
Rangkaian kegiatan kemerdekaan telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan melibatkan keluarga besar SIT Mutiara Cendekia yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Dakwah Pelita Taqwa. Yayasan tersebut menaungi TKIT, SDIT, dan SMPIT Mutiara Cendekia.
Puncak peringatan digelar melalui upacara HUT ke-81 RI pada Senin, 17 Agustus 2026. Upacara berlangsung dengan melibatkan para siswa sebagai petugas, termasuk pasukan pengibar bendera dan marching band SMPIT Mutiara Cendekia.
Dalam amanatnya sebagai pembina upacara, dr. H. Umar Diharja, Sp, M.AP, M.Psi atau yang akrab disapa Abi Umar, mengingatkan bahwa makna kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengenang perjuangan para pahlawan.
Menurutnya, generasi muda juga harus mampu membebaskan diri dari berbagai hal yang dapat menghambat perkembangan diri.
“Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, jangan hanya membayangkan perjuangan para pahlawan yang mengangkat senjata. Kita harus melawan kemalasan, ketidakdisiplinan, kecanduan gadget, budaya instan, mudah menyerah, perundungan, egoisme, dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu tanpa melalui proses,” ujar Abi Umar.
Ia menyoroti perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan bagi generasi muda dalam memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut menurutnya juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri.
Abi Umar mengingatkan agar para siswa tidak sampai menjadi generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk berpikir dan berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
“Jangan sampai kalian menjadi generasi yang hebat menggunakan teknologi, tetapi lemah mengendalikan diri. Jangan sampai kalian pintar menggunakan AI, tetapi tidak mampu berpikir sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan popularitas di media sosial sebagai ukuran utama keberhasilan. Menurutnya, jumlah likes maupun status viral tidak boleh lebih penting daripada karakter dan nilai diri.
Selain persoalan teknologi, Abi Umar menekankan pentingnya proses dalam meraih keberhasilan. Sekolah, katanya, bukan sekadar tempat untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, menghargai orang lain, menerima kekalahan, dan bangkit ketika mengalami kegagalan.
Ia berharap para siswa tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki mental kuat, akhlak baik, kematangan emosi, serta kepedulian terhadap sesama.
Kepada para guru, Abi Umar juga mengingatkan pentingnya memberikan keteladanan kepada siswa. Di tengah derasnya informasi dari YouTube, TikTok, Instagram, gim, influencer, dan berbagai platform digital lainnya, guru dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak melalui sikap sehari-hari.
“Anak-anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pandai berbicara atau mengkritik, tetapi juga mau belajar, bekerja, menjalani proses, dan bertanggung jawab.
“Indonesia tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar. Indonesia membutuhkan anak-anak yang berkarakter,” tegas Abi Umar.
Melalui momentum HUT ke-81 RI, keluarga besar SIT Mutiara Cendekia Lubuk Linggau diajak mengisi kemerdekaan dengan prestasi, disiplin, ilmu, akhlak, persaudaraan, dan karya.
Bagi generasi muda, semangat kemerdekaan diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi diwujudkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti disiplin, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga lingkungan, belajar sungguh-sungguh, berani meminta maaf, serta tetap melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat.














