Kemendikdasmen Tegaskan MPLS 2026 Bebas Kekerasan, Hapus Stigma Ospek di Sekolah

Nasional, Sekolahku129 Dilihat

SUARAGURU.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 sebagai upaya menghapus stigma negatif orientasi sekolah yang selama ini kerap dikaitkan dengan perpeloncoan dan kekerasan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa MPLS Ramah 2026 bukan sekadar pergantian istilah, melainkan perubahan cara pandang dalam menyambut peserta didik baru. Melalui program ini, Kemendikdasmen ingin menciptakan pengalaman pertama di sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa.

MPLS Ramah 2026 mengusung empat pesan utama, yakni Ramah, Hari Baru, Aman, dan Nyaman di Sekolah. Konsep tersebut diharapkan dapat mengubah praktik orientasi sekolah yang sebelumnya rentan terhadap tindakan perpeloncoan menjadi kegiatan yang penuh penghargaan, kasih sayang, serta budaya damai.

Dalam pelaksanaannya, Kemendikdasmen menegaskan tidak boleh ada praktik kekerasan, perpeloncoan, pungutan biaya, maupun kegiatan yang tidak memiliki nilai edukatif. Seluruh rangkaian MPLS wajib berorientasi pada pembentukan karakter, pengenalan lingkungan sekolah, serta membantu siswa beradaptasi dengan suasana belajar yang baru.

Selain itu, pemerintah juga melarang keterlibatan alumni sebagai penyelenggara MPLS. Tanggung jawab pelaksanaan kegiatan sepenuhnya berada di bawah pengawasan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan guna memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai tujuan pendidikan dan prinsip perlindungan anak.

Kemendikdasmen juga mendorong keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan MPLS melalui sosialisasi dan komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah. Langkah ini dilakukan agar orang tua memahami aturan, batasan, serta tujuan kegiatan yang dijalani anak selama masa orientasi sekolah.

Melalui MPLS Ramah 2026, pemerintah berharap hari pertama sekolah menjadi pengalaman yang berkesan bagi peserta didik. Keberhasilan program ini tidak diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari sejauh mana siswa merasa diterima, aman, nyaman, dan termotivasi untuk belajar di lingkungan sekolah barunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *