Menyikapi Viral Perundungan Siswa, Saatnya Menata Kembali Fondasi Etika di Sekolah Kita

Opini38 Dilihat

Opini: Menyikapi Viral Perundungan Siswa, Saatnya Menata Kembali Fondasi Etika di Sekolah Kita

Oleh: Widi Oktariansyah, S.Pd.
Ketua Forum Guru ASN PPPK Kota Lubuklinggau/ Persatuan PPPK RI Kota Lubuklinggau

Jagat maya Kota Lubuklinggau baru-baru ini dikejutkan oleh video viral aksi perundungan (bullying) yang melibatkan anak-anak usia sekolah. Sebagai seorang pendidik sekaligus bagian dari komunitas masyarakat Lubuklinggau, hati saya tersayat. Menyaksikan tindakan kekerasan egoistik antar-pelajar bukan sekadar tamparan bagi dunia pendidikan lokal, melainkan sebuah alarm keras bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan ruang aman anak-anak kita.Kita tidak boleh hanya berhenti pada rasa geram, lalu ikut menghakimi di kolom komentar sosial media. Kasus viral ini adalah puncak dari gunung es. Di bawah permukaannya, ada tantangan besar terkait krisis karakter, lemahnya kontrol emosi remaja, hingga dampak negatif dari paparan digital tanpa filter yang gagal kita bendung bersama.

Menghukum Saja Tidak Cukup
Ketika video perundungan viral, tuntutan publik biasanya seragam: hukum dan keluarkan pelaku dari sekolah.
Sebagai penegakan kedisiplinan, sanksi tegas memang wajib diberikan untuk memberikan efek jera dan melindungi korban. Namun, dari kacamata pendidikan, memutus hak sekolah anak begitu saja tanpa adanya rehabilitasi perilaku sering kali hanya memindahkan masalah ke jalanan. Anak yang dikeluarkan tanpa bimbingan psikologis yang tepat justru berpotensi menjadi pelaku kekerasan yang lebih besar di lingkungan masyarakat kelak.
Kita harus melihat pelaku sebagai anak yang “gagal memahami nilai kemanusiaan” dan tugas kitalah, para orang tua, guru, dan lingkungan, untuk mengembalikan pemahaman itu.

Sinergi Tiga Pilar: Rumah, Sekolah, dan Lingkungan
Kasus perundungan tidak bisa dibebankan kepada guru di sekolah semata. Guru ASN PPPK di Kota Lubuklinggau, bersama seluruh elemen pendidik lainnya, menghabiskan waktu maksimal 7 hingga 8 jam bersama siswa di sekolah. Sisa waktu terbesar mereka ada di rumah dan lingkungan bermain.
Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini butuh komitmen nyata dari tiga pihak:
1. Orang Tua sebagai Madrasah Utama: Pengawasan terhadap gawai (gadget) dan pergaulan anak di luar rumah harus diperketat. Sentuhan kasih sayang dan penanaman etika di rumah adalah benteng pertama agar anak tidak mencari validasi diri lewat cara-cara kekerasan di luar.
2. Sekolah sebagai Ruang Aman (Safe Zone): Kami di Forum Guru ASN PPPK berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya ekosistem sekolah yang inklusif dan humanis. Pendekatan Deep Learning—di mana siswa tidak hanya dijejali materi pelajaran secara kognitif, melainkan diajak menyelami empati, menghargai perbedaan, dan merefleksikan setiap tindakan—harus dioptimalkan. Ruang bimbingan konseling harus menjadi tempat yang ramah bagi siswa untuk mengadu, bukan tempat yang menakutkan.
3. Masyarakat dan Media Sosial yang Bijak: Lingkungan sosial Kota Lubuklinggau harus peduli. Jika melihat bibit-bibit kekerasan di jalanan atau fasilitas umum, jangan acuh atau sekadar merekam demi konten. Lakukan intervensi secara terukur.

Ajakan Bertindak
Saya mengimbau kepada seluruh rekan-rekan Guru ASN PPPK di Kota Lubuklinggau untuk meningkatkan kepekaan di lingkungan sekolah masing-masing. Mari kita perkuat pengawasan pada jam-jam rawan, seperti saat istirahat dan jam kepulangan sekolah.
Kepada Dinas Pendidikan dan instansi terkait, mari kita bersama-sama memperluas sosialisasi anti-perundungan secara masif, berkala, dan menyentuh akar rumput.
Perundungan adalah musuh bersama yang merenggut masa depan korbannya dan merusak mental pelakunya. Mari kita jadikan momentum viralnya kasus ini sebagai titik balik untuk merapatkan barisan. Kita kembalikan Kota Lubuklinggau sebagai kota yang tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga beradab, berkarakter, dan memiliki tenggang rasa yang tinggi.
Stop Bullying, Selamatkan Anak-Anak Kita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *