Siswa SMP di Tulang Bawang Alami Patah Tangan Usai Perkelahian, Dua Insiden Viral Diusut

Kriminal41 Dilihat

LAMPUNG, SUARAGURU.ID – Kasus perkelahian yang melibatkan pelajar SMPN Satu Atap 5 Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, menjadi sorotan setelah salah satu siswa mengalami patah tulang pada lengan. Peristiwa tersebut sempat viral di media sosial dan awalnya disebut sebagai aksi perundungan. Namun, hasil penelusuran Dinas Pendidikan menunjukkan insiden tersebut merupakan perkelahian yang dipicu konflik lama antarsiswa.

Korban berinisial DF mengalami patah tulang di bagian tangan serta luka di beberapa bagian tubuh setelah terlibat perkelahian dengan seorang teman sekolah. Menurut keterangan orang tua korban, perselisihan bermula dari aksi saling mengejek di dalam kelas yang sempat dilerai guru. Namun, setelah jam pelajaran berakhir, konflik kembali berlanjut di area parkir sepeda motor sekolah hingga berujung perkelahian.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang, M. Ami Ismet Balau, menjelaskan bahwa terdapat dua peristiwa berbeda yang videonya beredar luas di media sosial. Kedua kejadian sama-sama melibatkan siswa kelas VII, tetapi terjadi pada waktu, lokasi, dan pelaku yang berbeda. Meski demikian, keduanya memiliki akar persoalan yang sama, yakni konflik yang telah berlangsung sejak para siswa masih duduk di bangku sekolah dasar.

Peristiwa pertama terjadi pada 18 Juli 2026 di dalam ruang kelas ketika guru keluar sebentar untuk mengambil perlengkapan mengajar. Saat itu terjadi keributan yang berujung perkelahian antarsiswa dan direkam oleh teman-temannya hingga videonya menyebar di media sosial. Kasus tersebut kemudian diselesaikan melalui mediasi antara pihak sekolah dan orang tua kedua belah pihak.

Sementara itu, insiden kedua terjadi pada 24 Juli 2026 setelah jam sekolah usai. Perkelahian yang melibatkan DF mengakibatkan korban mengalami patah tulang pada lengan dan harus menjalani perawatan medis. Pihak sekolah bersama pemerintah desa kembali memfasilitasi mediasi sehingga kedua keluarga sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

Meski kedua kasus telah berakhir damai, kronologi kejadian tetap dilaporkan ke Polsek Dente Teladas sebagai langkah antisipasi dan dokumentasi. Dinas Pendidikan juga menyatakan akan melakukan evaluasi bersama pihak sekolah guna memperkuat pengawasan terhadap peserta didik serta mencegah terulangnya konflik serupa di lingkungan pendidikan.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya deteksi dini terhadap konflik antarpelajar. Sinergi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan aparat penegak hukum dinilai menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, kondusif, dan bebas dari kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *