Pelajar di Palu Didorong Jadi Agen Perubahan untuk Cegah Pernikahan Anak

Event30 Dilihat

PALU, SUARAGURU.ID – Upaya pencegahan pernikahan anak terus diperkuat dengan melibatkan generasi muda secara langsung. Salah satunya melalui National Training of Trainers (TOT) VOICE yang digelar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 11–14 Agustus 2026. ([RRI.co.id][1])

Kegiatan tersebut diinisiasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) bersama UNICEF Indonesia. National TOT VOICE atau Voicing Our Identity, Courage and Empowerment menjadi wadah edukasi sekaligus penguatan kapasitas pelajar agar mampu berperan dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Pembukaan kegiatan dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Daerah Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, yang mewakili Wali Kota Palu. Palu menjadi lokasi penyelenggaraan kedua National TOT VOICE setelah sebelumnya kegiatan serupa digelar di Jakarta. Peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Irmayanti menilai tema VOICE sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Menurutnya, terdapat tiga nilai penting yang perlu dimiliki pelajar, yakni identitas, keberanian, dan pemberdayaan.

Identitas atau identity mendorong generasi muda untuk mengenali jati diri, memahami nilai yang dimiliki, serta memiliki rasa percaya diri sebagai pelajar dan penerus bangsa.

Sementara itu, courage atau keberanian tidak hanya berarti berani menghadapi rasa takut. Keberanian juga berarti mampu menyampaikan kebenaran, membela kelompok yang lemah, serta mengambil sikap untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

“Anak-anak kita harus diberikan ruang untuk bersuara. Mereka harus didengar, dilibatkan, dan diberikan kesempatan untuk mengambil peran dalam menciptakan perubahan yang lebih baik,” ujar Irmayanti.

Nilai ketiga adalah empowerment atau pemberdayaan. Melalui konsep ini, pelajar diharapkan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi turut dilibatkan dalam menyampaikan pendapat dan mencari solusi atas persoalan yang terjadi di lingkungan mereka.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan kapasitas terkait perlindungan anak, termasuk upaya mencegah pernikahan anak dan praktik sunat perempuan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada pelajar dan masyarakat di daerah asal masing-masing.

Irmayanti berharap para peserta tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Mereka diharapkan mampu menjadi fasilitator sekaligus agen perubahan yang aktif menyebarkan edukasi mengenai hak-hak anak.

“Semoga kegiatan ini tidak berhenti hanya pada forum pelatihan, tetapi dapat melahirkan gerakan dan perubahan nyata di lingkungan masing-masing,” katanya.

Upaya tersebut dinilai penting karena pencegahan pernikahan anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah, organisasi kepemudaan hingga anak dan pelajar itu sendiri. Pemerintah Kota Palu sebelumnya juga telah menjalankan berbagai kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko pernikahan anak.

Melalui National TOT VOICE, para pelajar diharapkan mampu membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ke lingkungan masing-masing. Dengan demikian, mereka dapat ikut membangun lingkungan yang lebih aman, inklusif, setara, dan ramah anak sekaligus memperkuat gerakan pencegahan pernikahan anak di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *