JAKARTA, SUARAGURU.ID – Sebanyak 350 peserta didik SMKN 64 Cipayung, Jakarta Timur, menjadi sasaran pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi berbagai risiko kesehatan siswa sejak dini, mulai dari tekanan darah, status gizi hingga kesehatan mata dan gigi.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Arief Wahyudhy, mengatakan para siswa mengikuti rangkaian pemeriksaan mulai dari pengisian skrining hingga pemeriksaan kesehatan sesuai kelompok usia dan jenjang pendidikan.
“CKG menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara lebih dini. Kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat dan berbagai faktor risiko kesehatan,” ujar Arief.
Program CKG Sekolah tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga mengidentifikasi faktor risiko dan kondisi pra-penyakit yang berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik. Untuk siswa SMA dan SMK berusia sekitar 16–17 tahun, pemeriksaan mencakup status gizi, tekanan darah, gula darah, mata, telinga, gigi, kesehatan jiwa hingga kesehatan reproduksi.
Pelaksanaan CKG sebelumnya di SMKN 64 Cipayung juga menunjukkan adanya sejumlah temuan kesehatan. Dari 354 siswa yang diperiksa, sebanyak 77 siswa atau 21,75 persen mendapatkan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Temuan tersebut antara lain 45 siswa dengan hipertensi grade satu, 16 siswa mengalami anemia, serta 17 siswa memiliki indikasi gangguan penglihatan.
Sementara itu, hasil CKG di wilayah Jakarta Timur sepanjang Januari hingga Juni 2026 menunjukkan tekanan darah meningkat menjadi salah satu temuan yang cukup menonjol. Dari 27.376 anak yang diperiksa, sebanyak 11.773 anak atau 43 persen ditemukan mengalami kondisi tersebut.
Selain itu, terdapat 8.149 anak atau 36 persen yang tercatat memiliki aktivitas fisik kurang. Pemeriksaan juga menemukan sejumlah kasus karies gigi, gangguan penglihatan, masalah gizi, obesitas dan anemia. Dari 1.971 peserta didik yang diperiksa untuk anemia, sebanyak 770 anak atau sekitar 39 persen ditemukan mengalami kondisi tersebut.
Arief menegaskan pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada proses skrining. Siswa yang ditemukan memiliki faktor risiko akan mendapatkan edukasi, intervensi promotif dan preventif, pemantauan, hingga rujukan apabila membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Prinsipnya, hasil CKG tidak berhenti pada pemeriksaan saja. Kalau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, peserta didik akan dirujuk sesuai indikasi,” katanya.
Sepanjang 2026, Jakarta Timur menargetkan sebanyak 206.916 anak atau sekitar 35 persen dari total sasaran 591.191 anak usia sekolah mengikuti CKG. Pemerintah juga memperkuat koordinasi antara puskesmas, sekolah, orang tua, Dinas Pendidikan dan pihak terkait agar setiap temuan kesehatan dapat segera ditindaklanjuti.
Melalui pemeriksaan kesehatan sejak usia sekolah, program CKG diharapkan dapat membantu menemukan gangguan kesehatan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Selain itu, siswa juga diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga pola hidup sehat agar dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat dan produktif.















